Sunday, May 17, 2026

ANCAMAN, TANTANGAN, HAMBATAN DAN GANGGUAN (ATHG)

 

MATERIAL KELAS 11 BAB 4

ANCAMAN, TANTANGAN, HAMBATAN DAN GANGGUAN NKRI

 

A. ANCAMAN

Ancaman negara adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa.

 

Definisi ini mengacu pada UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 1 ayat 1, yang berbunyi:

“Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa.”

 

1. Separatisme

Penjelasan: Gerakan yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mendirikan negara sendiri. Ancaman ini langsung merusak keutuhan wilayah dan persatuan bangsa. 

Contoh: Gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua, atau Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di masa lalu.

 2. Radikalisme dan Terorisme

Penjelasan: Paham atau aksi kekerasan yang mengatasnamakan ideologi atau agama tertentu untuk memaksakan kehendak dan mengganti ideologi negara. Hal ini menciptakan ketakutan, perpecahan, dan rasa saling curiga antar kelompok masyarakat. 

Contoh: Aksi bom bunuh diri oleh kelompok teroris, penyebaran paham intoleran yang menolak Pancasila.

 3. Konflik SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)

Penjelasan: Pertentangan yang dipicu oleh perbedaan identitas primordial. Jika tidak dikelola, konflik SARA merusak toleransi, memecah belah masyarakat, dan mengikis rasa senasib sepenanggungan. 

Contoh: Konflik Sampit tahun 2001, konflik Poso, atau bentrokan antarpendukung kelompok tertentu.

 4. Disintegrasi Nilai dan Lunturnya Nasionalisme

Penjelasan: Masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai Pancasila, serta menurunnya rasa cinta tanah air dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Ini membuat ikatan kebangsaan melemah. 

Contoh: Individualisme ekstrem, hedonisme, penyebaran berita hoaks yang memecah belah, dan apatisme terhadap isu kebangsaan.

 5. Kesenjangan Sosial dan Ekonomi yang Tajam

Penjelasan: Ketimpangan pembangunan, kemiskinan, dan ketidakadilan ekonomi antar daerah atau kelompok masyarakat dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Kondisi ini rawan dimanfaatkan untuk memprovokasi perpecahan. 

Contoh: Ketimpangan pembangunan antara wilayah Indonesia Barat dan Timur, atau konflik agraria antara masyarakat dengan perusahaan besar yang menyebabkan kecemburuan dan rasa tidak diperlakukan adil oleh negara.

Arti Ancaman Negara


Ancaman negara adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa.

Definisi ini mengacu pada UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 1 ayat 1, yang berbunyi:

 

> “Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan segenap bangsa.”

 

Unsur-Unsur Penting dari Ancaman Negara:

 

1. Sifatnya Membahayakan 

   Bukan sekadar gangguan kecil, tapi berpotensi merusak atau menghancurkan sendi-sendi bernegara. Dampaknya serius terhadap eksistensi bangsa.

 

2. Sasarannya Jelas 

   Ancaman ditujukan pada 3 hal pokok:

   - Kedaulatan negara → Kewibawaan dan kekuasaan tertinggi negara untuk mengatur diri sendiri tanpa campur tangan asing.

   - Keutuhan wilayah NKRI → Dari Sabang sampai Merauke. Ancaman bisa berupa upaya memisahkan diri atau mengambil wilayah. 

   - Keselamatan segenap bangsa → Keamanan jiwa, harta, dan hak hidup seluruh warga negara.

 

3. Sumbernya Bisa dari Dalam & Luar Negeri 

   - Ancaman dari luar: Agresi militer negara lain, spionase, pelanggaran wilayah, intervensi politik asing. 

   - Ancaman dari dalam: Separatisme, terorisme, radikalisme, konflik SARA bersenjata, pemberontakan.

 

4. Bentuknya Militer & Non-militer 

   - Ancaman Militer: Menggunakan kekuatan bersenjata terorganisasi. Contoh: invasi, agresi, pelanggaran wilayah, sabotase, spionase, aksi teror bersenjata, pemberontakan bersenjata. 

   - Ancaman Non-militer: Tidak menggunakan senjata, tapi berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, dan keselamatan umum. Contoh: propaganda ideologi asing, perang dagang, serangan siber, penyelundupan narkoba skala besar, wabah penyakit.

 

Karena itu, menghadapi ancaman negara menjadi tugas seluruh komponen bangsa, bukan hanya TNI/Polri, sesuai konsep Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta).

 

B. TANTANGAN

Tantangan negara adalah berbagai kondisi, situasi, atau permasalahan yang bersifat tidak langsung membahayakan, namun jika tidak diatasi dengan tepat dapat mengganggu kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.

 Tantangan Negara Adalah...

 

Tantangan negara adalah berbagai kondisi, situasi, atau permasalahan yang bersifat menghambat, menguji, dan harus dihadapi serta diatasi oleh negara agar tujuan nasional dapat tercapai dan integrasi nasional tetap terjaga.

 

Berbeda dengan ancaman yang sifatnya merusak/membahayakan eksistensi negara, tantangan lebih bersifat kondisi yang harus dikelola. Jika berhasil diatasi, tantangan justru bisa memperkuat bangsa.


 Ciri-Ciri Tantangan Negara:

 

1. Bersifat Menghambat, Bukan Menghancurkan 

   Tantangan tidak langsung membahayakan kedaulatan, tapi kalau dibiarkan bisa melemahkan bangsa dan berpotensi menjadi ancaman.

 

2. Berasal dari Kondisi Internal Maupun Eksternal 

   - Internal: Kemajemukan masyarakat, kondisi geografis, kesenjangan sosial, rendahnya nasionalisme. 

   - Eksternal: Globalisasi, perkembangan teknologi, persaingan ekonomi global, pengaruh budaya asing.

 

3. Menuntut Solusi dan Strategi 

   Tantangan harus dijawab dengan kebijakan, pembangunan, pendidikan, dan penguatan karakter bangsa. Tidak diselesaikan dengan kekuatan militer.

 

4. Berlangsung Jangka Panjang 

   Umumnya tantangan bersifat struktural dan terus ada, sehingga penanganannya butuh konsistensi lintas generasi.

 

 Contoh Tantangan Negara yang Menghambat Integrasi Nasional:

 

1. Kemajemukan masyarakat Indonesia dengan 1.340 suku dan 6 agama resmi → rawan konflik SARA jika tidak dikelola toleransi.

2. Kondisi geografis kepulauan → sulit pemerataan pembangunan dan bisa menimbulkan kecemburuan antarwilayah. 

3. Globalisasi & banjir informasi digital → masuknya hoaks, ujaran kebencian, dan ideologi asing yang menggerus nilai Pancasila. 

4. Kesenjangan pembangunan → ketimpangan Jawa-Luar Jawa membuat rasa keadilan terganggu. 

5. Lunturnya nilai Pancasila → individualisme dan apatisme membuat ikatan kebangsaan melemah.

 

 Jadi, tantangan negara adalah “PR besar” yang harus dikerjakan negara bersama rakyatnya agar bangsa ini tetap utuh, kuat, dan maju.

 

Perbedaan singkat: 

Ancaman = Hal yang berpotensi merusak/menghancurkan integrasi. 

Tantangan = Kondisi/kendala yang harus diatasi agar integrasi tercapai & terpelihara.

 

Berikut 5 contoh tantangan negara yang menghambat integrasi nasional:

 

 1. Kemajemukan/Keragaman Masyarakat Indonesia

Penjelasan: Indonesia terdiri dari 1.340 suku, 718 bahasa daerah, 6 agama resmi, dan beragam adat istiadat. Keragaman ini adalah kekayaan, tapi sekaligus tantangan besar. Perbedaan ini rawan menimbulkan salah paham, stereotip, dan konflik jika tidak dikelola dengan toleransi dan wawasan kebangsaan. 

Contoh dampak: Munculnya sentimen kedaerahan “putra daerah vs pendatang” dalam pemilihan kepala daerah atau persaingan kerja.

 

 2. Kondisi Geografis sebagai Negara Kepulauan

Penjelasan: Wilayah Indonesia terpisah oleh lebih dari 17.000 pulau. Kondisi ini membuat pembangunan infrastruktur, pemerataan informasi, dan distribusi ekonomi tidak mudah. Kesenjangan antar wilayah bisa menimbulkan kecemburuan dan perasaan dianaktirikan. 

Contoh dampak: Sulitnya akses pendidikan & kesehatan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) sehingga muncul perasaan “tidak diperhatikan negara”.

 

 3. Pengaruh Globalisasi dan Kemajuan Teknologi

Penjelasan: Arus informasi yang sangat cepat membuat budaya asing, ideologi transnasional, dan berita hoaks mudah masuk. Jika masyarakat tidak punya filter nilai Pancasila yang kuat, bisa terjadi krisis identitas dan perpecahan karena disinformasi. 

Contoh dampak: Mudahnya penyebaran ujaran kebencian dan hoaks bernuansa SARA di media sosial yang memecah belah masyarakat.

 

 4. Kesenjangan Pembangunan Antar Wilayah

Penjelasan: Pembangunan yang masih terpusat di Pulau Jawa dan kota-kota besar menimbulkan ketimpangan ekonomi, pendidikan, dan fasilitas publik. Ketimpangan ini menjadi tantangan karena bisa mengurangi rasa keadilan dan rasa memiliki terhadap negara. 

Contoh dampak: Tuntutan otonomi daerah yang lebih luas atau bahkan pemekaran wilayah karena merasa pembangunan tidak merata.

 

 5. Rendahnya Pemahaman dan Pengamalan Nilai-nilai Pancasila

Penjelasan: Jika warga negara, terutama generasi muda, hanya hafal butir Pancasila tapi tidak mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka ikatan kebangsaan akan lemah. Tantangannya adalah bagaimana membuat Pancasila tetap relevan dan hidup di tengah perubahan zaman. 

Contoh dampak: Meningkatnya sikap individualis, intoleran, dan mudah terprovokasi karena luntur nilai gotong royong dan musyawarah mufakat.

 

Kelima tantangan ini tidak bisa dihilangkan, tapi harus dikelola dengan kebijakan yang tepat, pendidikan karakter, pemerataan pembangunan, dan penguatan identitas nasional agar integrasi tetap kokoh.

C. HAMBATAN

 

 1. Heterogenitas/Kemajemukan Masyarakat Indonesia

Penjelasan: Indonesia memiliki lebih dari 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, 6 agama resmi, serta beragam ras dan golongan. Keragaman ini adalah anugerah, namun menjadi tantangan karena perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) rawan memicu prasangka, stereotip, dan gesekan sosial jika tidak dibarengi sikap toleransi yang kuat. 

Dampak terhadap integrasi: Mudah muncul konflik horizontal dan semangat kedaerahan yang berlebihan sehingga mengalahkan rasa kebangsaan.

 

 2. Wilayah Negara Kepulauan yang Sangat Luas 

Penjelasan: Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan >17.000 pulau menyebabkan jarak fisik dan psikologis antarwarga. Hal ini menyulitkan pemerataan pembangunan, distribusi informasi, dan pengawasan. 

Dampak terhadap integrasi: Timbul kesenjangan fasilitas pendidikan, kesehatan, ekonomi antar daerah. Warga di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) bisa merasa “dianaktirikan” oleh pemerintah pusat sehingga loyalitas kebangsaan melemah.

 

 3. Ketimpangan Pembangunan dan Kesenjangan Sosial-Ekonomi 

Penjelasan: Pembangunan yang belum merata antara Indonesia bagian barat-timur, desa-kota, dan pusat-daerah menimbulkan kecemburuan sosial. Kesenjangan pendapatan dan akses terhadap sumber daya juga termasuk tantangan serius. 

Dampak terhadap integrasi: Lahirnya rasa ketidakadilan yang dapat dimanfaatkan pihak tertentu untuk menggerakkan ketidakpuasan menjadi gerakan disintegrasi.

 

 4. Pengaruh Globalisasi dan Arus Informasi Digital 

Penjelasan: Masuknya ideologi asing, budaya populer, dan banjir informasi di media sosial menjadi tantangan filterisasi nilai. Hoaks, ujaran kebencian, dan paham radikal transnasional sangat cepat menyebar dan bisa mengadu domba masyarakat. 

Dampak terhadap integrasi: Lunturnya identitas nasional, krisis kepercayaan antarkelompok, dan tergerusnya nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong dan musyawarah mufakat.

 

 5. Rendahnya Kesadaran Hukum dan Nasionalisme Warga Negara 

Penjelasan: Masih banyak warga negara yang belum memahami hak-kewajiban sebagai warga negara, kurang disiplin terhadap hukum, dan minim pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk juga sikap apatis terhadap persoalan bangsa. 

Dampak terhadap integrasi: Munculnya perilaku main hakim sendiri, korupsi, tidak taat pajak, dan intoleransi. Jika dibiarkan, akan mengikis wibawa negara dan rasa persatuan.

 

 

Catatan penting: Tantangan berbeda dengan ancaman. Tantangan adalah kondisi yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan strategi yang tepat. Jika tantangan ini berhasil dikelola, justru bisa memperkuat integrasi nasional.

D. GANGGUAN

Dalam konteks ketahanan nasional, gangguan adalah hambatan yang sifatnya langsung mengganggu jalannya pembangunan dan kehidupan bernegara, tapi skalanya lebih kecil/terbatas dibanding ancaman dan biasanya bersifat non-militer. Kalau tidak ditangani, gangguan bisa berkembang menjadi ancaman.

 

Berikut 5 contoh GANGGUAN negara yang menghambat integrasi NASIONAL:

 

 1. Unjuk Rasa Anarkis dan Kerusuhan Sosial

Penjelasan: Demonstrasi adalah hak warga negara, namun menjadi gangguan ketika dilakukan dengan merusak fasilitas umum, blokade jalan, penjarahan, dan bentrok dengan aparat. 

Dampak terhadap integrasi nasional: Menciptakan rasa tidak aman, mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, dan memicu dendam antar kelompok yang terlibat bentrok. 

Contoh: Kerusuhan yang disertai pembakaran fasilitas umum saat demonstrasi yang berujung ricuh.

 

 2. Penyebaran Hoaks dan Ujaran Kebencian Bernuansa SARA

Penjelasan: Informasi bohong dan provokasi di media sosial yang menyerang suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Meski dilakukan individu/kelompok kecil, efeknya masif. 

Dampak terhadap integrasi nasional: Merusak kepercayaan antarkelompok, memicu salah paham, dan melemahkan toleransi yang sudah dibangun. 

Contoh: Hoaks tentang penistaan agama atau provokasi menjelang pemilu yang membuat masyarakat saling curiga.

 

 3. Tindak Kriminalitas Lintas Kelompok/Wilayah

Penjelasan: Kejahatan seperti tawuran antarkampung, geng motor, begal, atau premanisme yang melibatkan identitas kelompok tertentu. 

Dampak terhadap integrasi nasional: Menciptakan segregasi wilayah “ini daerah kami vs mereka”, mengganggu rasa aman, dan menghambat interaksi sosial antarkelompok. 

Contoh: Tawuran rutin antar pemuda dari dua kelurahan berbeda di Jakarta yang membuat warga takut melintas.

 

 4. Penyalahgunaan Narkoba dan Miras di Kalangan Generasi Muda

Penjelasan: Maraknya peredaran narkotika dan minuman keras merusak mental dan moral generasi penerus bangsa. 

Dampak terhadap integrasi nasional: Melemahkan kualitas SDM, meningkatkan angka kriminalitas, dan menggerus nilai Pancasila seperti ketuhanan dan kemanusiaan. Generasi yang rusak sulit diajak membangun bangsa bersama. 

Contoh: Kampung-kampung yang dikenal sebagai basis peredaran narkoba sehingga dijauhi warga lain dan menimbulkan stigma negatif.

 

 5. Sabotase dan Perusakan Infrastruktur Vital

Penjelasan: Tindakan merusak fasilitas publik seperti rel kereta, jaringan listrik, BTS telekomunikasi, atau pipa air oleh oknum untuk kepentingan pribadi/golongan. 

Dampak terhadap integrasi nasional: Menghambat konektivitas dan komunikasi antarwilayah. Ketika antarwilayah sulit terhubung, rasa kesatuan sebagai satu bangsa juga melemah. 

Contoh: Pencurian kabel listrik/tower BTS di daerah terpencil yang membuat satu kecamatan terisolasi dari informasi.

 

Perbedaan singkat biar jelas:

- Ancaman → Bersifat besar, sistematis, membahayakan kedaulatan: separatis, terorisme, agresi militer.

- Tantangan → Kondisi yang harus dihadapi: kemajemukan, kondisi geografis, globalisasi. 

- Gangguan → Aksi langsung yang menghambat: kerusuhan, hoaks, tawuran, narkoba, sabotase.

 

Kalau gangguan ini dibiarkan terus-menerus, bisa naik level jadi ancaman serius bagi integrasi nasional.

Sunday, October 12, 2025

MAKNA BHINNEKA TUNGGAL IKA

 MAKNA BHINNEKA TUNGGAL IKA

CATATAN

Bhinneka Tunggal Ika adalah konsep filosofis dan ideologi negara Indonesia yang berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu". Konsep ini menggambarkan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan budaya yang berbeda-beda.

Makna Bhinneka Tunggal Ika:

  1. Kesatuan dalam keberagaman: Bhinneka Tunggal Ika mengakui dan menghargai keberagaman suku, agama, ras, dan budaya di Indonesia.
  2. Persatuan bangsa: Konsep ini menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan bersama.
  3. Toleransi dan saling menghargai: Bhinneka Tunggal Ika mendorong sikap toleransi dan saling menghargai antar sesama warga negara.

Penerapan Bhinneka Tunggal Ika:

  1. Pancasila: Bhinneka Tunggal Ika merupakan salah satu prinsip dasar Pancasila, yaitu sila ketiga "Persatuan Indonesia".
  2. Kebudayaan nasional: Konsep ini mendorong pengembangan kebudayaan nasional yang berbasis pada keberagaman budaya daerah.
  3. Pendidikan: Bhinneka Tunggal Ika diajarkan dalam pendidikan untuk mempromosikan kesadaran dan penghargaan terhadap keberagaman.

Manfaat Bhinneka Tunggal Ika:

  1. Meningkatkan persatuan bangsa: Konsep ini membantu meningkatkan kesadaran dan persatuan bangsa Indonesia.
  2. Mendorong toleransi: Bhinneka Tunggal Ika mendorong sikap toleransi dan saling menghargai antar sesama warga negara.
  3. Mengembangkan kebudayaan nasional: Konsep ini membantu mengembangkan kebudayaan nasional yang kaya dan beragam.

Monday, April 28, 2025

TINDAK PIDANA KORUPSI

 TINDAK PIDANA KORUPSI


Tipikor adalah singkatan dari Tindak Pidana Korupsi, yaitu tindakan kriminal yang melanggar hukum dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Korupsi mencakup berbagai tindakan seperti suap, gratifikasi, penggelapan, dan perbuatan curang lainnya yang bertujuan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain. 

Korupsi berasal dari Bahasa Latin “corruptus” dan “corruptio” yang secara harafiah berarti kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, dan penyimpangan dari kesucian.[1] Sedangkan menurut KBBI, korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Thursday, April 24, 2025

PRILAKU KORUPTIF

Bentuk-Bentuk Perilaku Koruptif


1. Penyuapan (Bribery)

Penyuapan adalah memberikan atau menerima uang, barang, atau jasa untuk mempengaruhi keputusan atau tindakan seseorang dalam menjalankan tugasnya.

Penyuapan (Bribery) adalah tindakan memberikan atau menerima sesuatu yang berharga, seperti uang, barang, atau jasa, dengan tujuan untuk mempengaruhi keputusan atau tindakan seseorang, terutama pejabat publik, dalam melakukan tugasnya.

Penyuapan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung, dan dapat melibatkan individu, organisasi, atau perusahaan.

Penyuapan seringkali dilakukan untuk memperoleh keuntungan yang tidak adil, seperti memenangkan kontrak, menghindari hukuman, atau memperoleh perlakuan istimewa. Namun, penyuapan juga dapat merusak integritas sistem pemerintahan, bisnis, dan masyarakat, serta merugikan orang lain yang tidak terlibat dalam tindakan tersebut.

Sunday, January 5, 2025

HAK ASASI MANUSIA

 

MATERI:  HAK ASASI MANUSIA

Kompetensi Dasar: Memahami jenis dan macam-macam Hak Asasi Manusia (HAM) dalam kehidupan sehari-hari.

                        MODUL 1.  Jenis dan Macam-Macam Hak Asasi Manusia HAM

A. Pengertian HAM

Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Hak ini bersifat universal, tidak dapat dicabut, dan harus dihormati oleh semua pihak.

Monday, April 22, 2024

PERISTIWA YANG MENYERTAI PROKLAMASI

 

Berikut adalah rangkaian peristiwa penting yang terjadi sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

1. Pembentukan BPUPKI

Jepang melakukan upaya untuk mengambil hati bangsa Indonesia setelah posisinya terjepit oleh sekutu pada Perang Dunia Kedua. Pada 7 September 1944, perdana Menteri Jepang, Jenderal Kuniaki Koiso menyebut bahwa Indonesia akan diberikan kemerdekaan jika Jepang mencapai kemenangan dalam perang Asia Timur Raya. Janji mewujudkan kemerdekaan ini diwujudkan dengan membentuk Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau "Dokuritsu Junbi Cosakai".

BPUPKI diumumkan pada 1 Maret 1945 oleh Jendral Kumakichi Harada, dan diresmikan pada 29 April 1945. Sidang pertama BPUPKI dilakukan pada 29 Mei - 1 Juni 1945 untuk merumuskan asas dan dasar negara. Hal ini diikuti dengan pembentukkan Panitia Sembilan pada 22 Juni 1945. Sidang kedua BPUPKI dilanjutkan pada 10-16 Juli 2022 untuk membahas tentang rancangan Undang-Undang Dasar, termasuk pembukaan dan batang tubuh. Setelah menyelesaikan tugasnya, BPUPKI kemudian dibubarkan pada 7 Agustus 1945.

2. Pembentukkan PPKI Hasil sidang BPUPKI kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai. PPKI diresmikan pada tanggal 9 Agustus 1945 di Kota Ho CHi Minh, Vietnam oleh Jenderal Terauchi. Peresmian berdirinya PPKI dihadiri oleh Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

3. Pemboman Hiroshima dan Nagasaki Peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu menjadi faktor eksternal yang memengaruhi peristiwa Proklamasi Kemerdekaan. Pada 6 Agustus 1945 bom pertama jatuh di Hiroshima, dan tiga hari kemudian pada 9 Agustus 1945 bom kedua jatuh di Nagasaki. Dua kota penting yang dihancurkan tersebut membuat kekalahan Jepang atas sekutu sudah di depan mata. Ditambah lagi, pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang secara resmi menyerah tanpa syarat kepada Sekutu di kapal USS Missouri. Informasi ini berhasil terdengar oleh salah satu tokoh Golongan Muda, yaitu Sutan Sjahrir dan menjadi alasan menuntut agar proklamasi kemerdekaan segera dilakukan.

4. Peristiwa Rengasdengklok Menyerahnya Jepang kepada Sekutu menimbulkan tekanan Golongan Muda agar Golongan Tua segera mempercepat proklamasi kemerdekaan. Namun kedua tokoh Golongan Tua yaitu Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta memilih untuk menunggu keputusan Jepang dan hasil sidang PPKI. Hingga tanggal 16 Agustus 1945 dini hari, Golongan Muda yaitu Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" menculik dan membawa Soekarno serta Hatta ke Rengasdengklok.

Latar belakang terjadinya peristiwa Rengasdengklok adalah adanya perbedaan pendapat antara golongan muda dan tua.

Tujuan penculikan ini tak lain adalah agar Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta mau untuk segera proklamasi kemerdekaan saat itu juga. Perundingan yang alot berujung pada kesepakatan Golongan Muda dan Golongan Tua untuk melaksanakan proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945.

5. Penyusunan Naskah Proklamasi Penyusunan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kemudian disusun pada tanggal 16 Agustus 1945 sekembalinya Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dari Rengasdengklok. Peristiwa penyusunan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini terjadi di rumah Laksamana Muda Maeda Tadashi di Jl. Imam Bonjol no. 1, Jakarta Pusat.


Tuesday, September 26, 2023

NATURALISASI

NATURALISASI


Proses naturalisasi di Indonesia adalah proses hukum yang memungkinkan warga negara asing (WNA) untuk memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Ini adalah cara bagi WNA yang telah tinggal lama di Indonesia atau memiliki alasan-alasan tertentu untuk menjadi warga negara Indonesia. Berikut adalah tahapan umum dalam proses naturalisasi di Indonesia:

ANCAMAN, TANTANGAN, HAMBATAN DAN GANGGUAN (ATHG)

  MATERIAL KELAS 11 BAB 4 ANCAMAN, TANTANGAN, HAMBATAN DAN GANGGUAN NKRI   A. ANCAMAN Ancaman negara adalah setiap usaha dan kegiata...