Berikut adalah rangkaian
peristiwa penting yang terjadi sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17
Agustus 1945.
1. Pembentukan BPUPKI
Jepang melakukan upaya untuk
mengambil hati bangsa Indonesia setelah posisinya terjepit oleh sekutu pada
Perang Dunia Kedua. Pada 7 September 1944, perdana Menteri Jepang, Jenderal
Kuniaki Koiso menyebut bahwa Indonesia akan diberikan kemerdekaan jika Jepang
mencapai kemenangan dalam perang Asia Timur Raya. Janji mewujudkan kemerdekaan
ini diwujudkan dengan membentuk Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI) atau "Dokuritsu Junbi Cosakai".
BPUPKI diumumkan pada 1 Maret
1945 oleh Jendral Kumakichi Harada, dan diresmikan pada 29 April 1945. Sidang
pertama BPUPKI dilakukan pada 29 Mei - 1 Juni 1945 untuk merumuskan asas dan
dasar negara. Hal ini diikuti dengan pembentukkan Panitia Sembilan pada 22 Juni
1945. Sidang kedua BPUPKI dilanjutkan pada 10-16 Juli 2022 untuk membahas
tentang rancangan Undang-Undang Dasar, termasuk pembukaan dan batang tubuh.
Setelah menyelesaikan tugasnya, BPUPKI kemudian dibubarkan pada 7 Agustus 1945.
2. Pembentukkan PPKI Hasil sidang
BPUPKI kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai. PPKI diresmikan pada
tanggal 9 Agustus 1945 di Kota Ho CHi Minh, Vietnam oleh Jenderal Terauchi.
Peresmian berdirinya PPKI dihadiri oleh Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan
Dr. Radjiman Wedyodiningrat.
3. Pemboman Hiroshima dan
Nagasaki Peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu menjadi faktor
eksternal yang memengaruhi peristiwa Proklamasi Kemerdekaan. Pada 6 Agustus
1945 bom pertama jatuh di Hiroshima, dan tiga hari kemudian pada 9 Agustus 1945
bom kedua jatuh di Nagasaki. Dua kota penting yang dihancurkan tersebut membuat
kekalahan Jepang atas sekutu sudah di depan mata. Ditambah lagi, pada tanggal
14 Agustus 1945 Jepang secara resmi menyerah tanpa syarat kepada Sekutu di
kapal USS Missouri. Informasi ini berhasil terdengar oleh salah satu tokoh
Golongan Muda, yaitu Sutan Sjahrir dan menjadi alasan menuntut agar proklamasi
kemerdekaan segera dilakukan.
4. Peristiwa Rengasdengklok
Menyerahnya Jepang kepada Sekutu menimbulkan tekanan Golongan Muda agar
Golongan Tua segera mempercepat proklamasi kemerdekaan. Namun kedua tokoh
Golongan Tua yaitu Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta memilih untuk menunggu
keputusan Jepang dan hasil sidang PPKI. Hingga tanggal 16 Agustus 1945 dini
hari, Golongan Muda yaitu Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh dari
perkumpulan "Menteng 31" menculik dan membawa Soekarno serta Hatta ke
Rengasdengklok.
Latar belakang terjadinya
peristiwa Rengasdengklok adalah adanya perbedaan pendapat antara golongan muda
dan tua.
Tujuan penculikan ini tak lain
adalah agar Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta mau untuk segera proklamasi
kemerdekaan saat itu juga. Perundingan yang alot berujung pada kesepakatan
Golongan Muda dan Golongan Tua untuk melaksanakan proklamasi pada tanggal 17
Agustus 1945.
5. Penyusunan Naskah Proklamasi Penyusunan naskah Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia kemudian disusun pada tanggal 16 Agustus 1945
sekembalinya Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dari Rengasdengklok. Peristiwa
penyusunan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini terjadi di rumah Laksamana
Muda Maeda Tadashi di Jl. Imam Bonjol no. 1, Jakarta Pusat.