PERKEMBANGAN KOLONIALISME DAN IMPERIALISME BARAT DI
INDONESIA
Tahukah kalian kalau Indonesia menjadi tempat yang paling di
cari pada masa Perang Dunia ke-2. Mengapa
menjadi wilayah yang dicari? Karena
Indonesia terkenal dengan wilayah yang subur dan kaya. DEngan keberadaan yang seperti itu tentu saja
Indonesia menjadi wilayah yang diperebutkan oleh bangsa barat. Tentu saja hal ini sangat tidak menguntungkan
bagi Indonesia sendiri, ancaman diambil
alih oleh bangsa lain terjadi pada saat Indonesia belum menjadi negara yang
berdaulat.
1. Latar belakang kedatangan orang-orang
Eropa di dunia Timur
Bangsa Barat mengenal dunia Timur oleh tulisan Marcopollo
dalam buku ‘Book of Various Eksperiences’ yang di dalamnya menceritakan tentang
keadaan yang terdapat di dunia timur. Faktor lain yang mengakibatkan bangsa
Eropa untuk pergi ke daerah timur ialah tingginya harga rempah-rempah di Eropa
setelah terjadinya Perang Salib (1543) yang terjadi antara Romawi Timur dengan
Turki yang pada saat itu dimenangkan oleh Turki. Kemenangan Turki menyebabkan
pelabuhan Konstantinopel yang semula dimiliki oleh Romawi Timur diambil alih
oleh Turki. Sejak saat itulah Turki melarang pedagang non-muslim untuk
berdagang di pelabuhan tersebut, sehingga rempah-rempah di Eropa menjadi langka
dan menyebabkan harga rempah-rempah di Eropa mahal.
Mahalnya harga rempah-rempah di Eropa mengakibatkan bangsa
Barat berusaha mencari pusat rempah-rempah sendiri. Bangsa Barat yang pertama
mendapatkan pusat rempah-rempah adalah Spanyol dan Portugal. Menurut Perjanjian
Tordeillas (1943), arah pelayaran kedua bangsa tersebut di bagi dua yaitu
bangsa Spanyol ke arah barat sedangkan
bangsa Portugis berlayar ke arah Timur.
Bangsa Portugis dalam pelayarannya berhasil;
1) Mencapai
Tanjung Harapan (Afrika Selatan) pada tahun 1484 di bawah pimpinan Bartholomeuz
Diaz
2) Mencapai
Calicut (India) pada tahun 1498 di bawah pimpinan Vasco da Gama
3) Menemukan
Selat Malaka (1511) dan dilanjutkan hingga mencapai Kepulauan
Maluku (1512) di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque
Bangsa Spanyol
berlayar ke arah barat di bawah pimpinan Ferdinand de Magelhaens dan Yuan
Sebastian de Alcano, dengan rute ke arah barat daya melintasi Samudra Atlantik
dan sampai ke ujung Benua Amerika lalu menyebrang ke Samudra Pasifik menuju
arah barat sampai di Filipina tahun 1521. Pelayaran yang dilakukan oleh bangsa
Spanyol berpengaruh besar bagi dunia dan
melalui pelayarannya tersebut, mereka mampu memberikan gambaran bahwa bentuk
bumi itu bulat dan bumi sangat luas, maka dari itu pelayaran bangsa Spanyol ini
adalah bangsa yang pertama kali berhasil mengelilingi dunia. Di Filipina
tentara Spanyol terlibat bentrokan dengan penduduk asli, hingga menewaskan
Ferdinand de Magelhaens. Akhirnya di bawah pimpinan Yuan Sebastian de Alcano
melanjutkan pelayaran ke arah Selatan dan akhirnya bertemu dengan bangsa
Portugis. Di Maluku kedua bangsa tersebut terlibat perselisihan untuk
mendapatkan rempah-rempah. Perselisihan tersebut diakhiri dengan Perjanjian
Saragosa (1526) yang ditetapkan bahwa daerah Maluku menjadi bagian pengaruh
kekuasaan Portugis sedangkan Filipina dibawah pengaruh kekuasaan Spanyol.
Bangsa Portugis dalam menguasai wilayah Indonesia
melaksanakan sistem imperialisme kuno yang bertujuan untuk mendapatkan 3G ;
a) Gold
(kekayaan)
b) Gospel
(penyebaran agama)
c) Glory
(kejayaan bangsa)
Imperialisme adalah usaha dan tindakan suatu bangsa untuk
mengembangkan kekuasaaan dalam bentuk pendudukan langsung terhadap wilayah
kekuasaan negara atau bangsa lain
Latar
belakang kedatangan orang-orang Eropa di Indonesia :
1. Akibat perang
salib, Konstantinopel dan daerah Timur Tengah lainnya yang merupakan jalur
perdagangan antara Eropa dan Asia tertutup karena dikuasai oleh Turki di bawah pemerintahan Sultan Muhammad
II. Oleh karena itu para pedagang Eropa mengalami kesulitan untuk mendapatkan
rempah-rempah. Keadaaan tersebut mendorong orang-orang Eropa untuk mencari
jalan lain ke Indonesia guna mencari rempah-rempah
2. Penemuan teori
Columbus yang menyatakan bahwa dunia berbentuk bulat
3. Semangat 3 G
yang menjadi semboyan Imperialisme Kuno yaitu Gold (mencari kekayaan
sebanyak-banyaknya), Glory (mencari ketenaran dan kejayaan bangsa), dan Gospel
(menyebarkan agama Nasrani/Kristen)
4. Semangat
Reconquesta yaitu semangat untuk merebut kembali kota-kota dan daerah-daerah
yang telah dikuasai oleh negara-negara Islam pada saat terjadinya Perang Salib
2. Masuknya
kekuasaan asing ke wilayah Indonesia
a)
Imperialisme Portugis di Indonesia
Tahun 1511 Portugis dibawah pimpinan Alfonso de Albuquerque
berhasil menguasai Selat Malaka yang pada saat itu merupakan bandar
rempah-rempah. Ternyata usaha yang dilakukan Portugis selanjutnya dengan
mengirimkan pasukan ke Maluku tahun 1512 dan berhasil menjalin hubungan dagang
dengan kerajaan Ternate. Untuk memperkuat pertahanannya Portugis mendirikan
benteng Sao Paolo yang dimanfaatkan untuk mengadakan monopoli perdagangan.
Ternyata monopoli perdagangan yang dilakukan Portugis
mengalami hambatan ketika tahun 1521 bangsa Spanyol tiba d Ternate. Akhirnya
persaingan antara pedagang Portugis dan Spanyol meningkat menjadi perselisihan
yang akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian Saragosa (1526) yang isinya
ditetapkan bahwa daerah perdagangan Portugis ialah Kepulauan Maluku sedangkan
daerah perdagangan Spanyol ialah Kepulauan Filipina.
Kekuasaan Portugis di Indonesia banyak mendapat perlawanan
dari bangsa Indonesia. Beberapa penyebab timbulnya perlawanan bangsa Indonesia
terhadap keberadaan bangsa Portugis di Indonesia, antara lain :
ü Bangsa Portugis
melaksanakan monopoli perdagangan
ü Bangsa Portugis
melakukan penyebaran agama
ü Sikap bangsa
Portugis yang tidak bersahabat
b) Imperialisme
Belanda di Indonesia
Keberhasilan yang dicapai bangsa Portugis dan Spanyol dalam
pelayaran hingga menemukan dunia timur yang merupakan sumber
rempah-rempah,mendorong bangsa Eropa lainnya untuk mengadakan pelayaran,
diantaranya Belanda. Pelayaran Belanda untuk menemukan dunia timur dipimpin
oleh Cornelis de Houtman. Pelayaran ini berhasil sampai ke kerajaan Banten
tahun 1596, pada masa itu Kerajaan Banten dipimpin oleh Sultan Abdul Mufahir
Namun kedatangan Belanda ditolak oleh para pedagang Banten,
yang akhirnya pulang dengan tangan hampa karena tidak dapat membeli
rempah-rempah. Akan tetapi kegagalan ini justru dimanfaatkan oleh pedagang
Belanda lainnya dan akhirnya sampai ke Kepulauan Maluku, disinilah mereka
berhasil mengeruk kekayaan berupa rempah-rempah dalam jumlah yang banyak.
Hal inilah yang mendorong bangsa Belanda lainnya pergi ke
Indonesia dalam upaya membeli rempah-rempah dengan harga yang sangat murah dan
dijual di Eropa dengan harga yang sangat mahal. Semakin banyaknya bangsa
Belanda yang tiba di Indonesia mengakibatkan terjadinya persaingan di antara
para pedagang Belanda itu sendiri. Untuk menghindari persaingan antarpedagang
Belanda dan pedagang asing lainnya, seperti Portugis, Spanyol, Inggris dan
Perancis, maka pada tahun 1602 Belanda mendirikan suatu kongsi dagang bernama
VOC (Vereenigde Ost Indische), dengan tujuan ingin memonopoli perdagangan
rempah-rempah.
1) Hak untuk
memonopoli perdagangan
2) Hak untuk
mencetak dan mengeluarkan uang sendiri
3) Hak untuk
membentuk angkatan perang sendiri
4) Hak untuk
melakukan perang
5) Hak untuk
membentuk pemerintahan sendiri
6) Hak untuk
mengadakan perjanjian raja-raja di Nusantara
7) Hak untuk
menarik pajak
8) Hak untuk
menjalankan kekuasaan kehakiman
ü Melaksanakan hak eksteerpasi, yaitu hak untuk menebang
pohon rempah-rempah apabila dianggap over produksi.
ü Pelayaran Hongi (hongi tochten), yaitu suatu pelayaran yan
bertujuan untuk mengawasi jalannya monopili perdagangan rempah-rempah di
Nusantara.
ü Para pegawai VOC
banyak yang melakukan korupsi
ü Semakin ketatnya
persaingan dengan kongsi pedagang dari Negara Eropa yang lainnya.
ü Wilayah jajahan
terlalu luas, sehingga memerlukan biaya opersiaonal yang sangat besar
ü Besarnya biaya
perang untuk menumpas perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia di
berbagai daerah
c)
Pemerintahan Hindia – Belanda
Akhirnya wilayah Indonesia berada dibawah kekuasaan kerajaan
Belanda. Seiring dengan itu di Eropa bergejolak perang yang akhirnya kerajaan
Belanda berhasil diduduki oleh Perancis yaitu dibawah pimpinan Napoleon
Bonaparte.
Perancis melihat perkembangan yang terjadi di Asia Tenggara
bahwa musuh utamanya yaitu Inggris, maka akhirnya mengangkat Herman William
Daendels sebagai gubernur jenderal di Indonesia yang mempunyai tugas utama
mempetahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris
Usaha yang dilakukan Daendels dalam mempertahankan Pulau
Jawa diantaranya :
1. Membangun jalan
pos dari Anyer sampai Panarukan
2. Melaksanakan
sistem rodi, yaitu kerja paksa untuk kepentingan pertahanan
3. Melaksanakan
system perdagangan budak
4. Menjalankan
pemerintahan secara diktator agar tidak terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh
bangsa Indonesia
5. Mencampuri
urusan intern kerajaan-kerajaan di Nusantara
6. Membangun armada
laut untuk pertahanan di laut
1. Menghapus system
kerja paksa
2. Pelayaran hongi
dihapuskan
3. Perbudakan
dilarang
4. Segala macam
jenis penyerahan dihapuskan
5. Melaksanakan
system Landrente (sewa tanah), dll
Di Indonesia, Rafles berusaha memajukan ilmu pengetahuan dengan
cara :
1. Melakukan
penelitian mengenai tumbuh-tumbuhan, hingga menemukan bunga bangkai yang
dinamakan Raflesia Arnoldy
2. Menulis buku
mengenai sejarah Pulau Jawa yang berjudul History of Java
3. Mendirikan Kebun
Raya Bogor
Akhirnya pada tahun 1816, inggris harus menyerahkan
kekuasaannya kembali kepada Belanda. Reaksi bangsa Indonesia ketika Belanda
kembali mengadakan perlawanan, diantaranya terjadi Perang Paderi, Perang
Patimura, Perang Diponegoro, dan Perang Aceh. Dampak dari banyaknya perang yang
dilakukan oleh bangsa Indonesia ialah kas Belanda menjadi kosong. Usaha yang
ditempuh oleh Belanda untuk mengisi kas Negara yang kosong adalah dengan
mendatangkan Van den Bosch, seorang ahli ekonomi bangsa Belanda ke Pulau Jawa.
Van den Bosch ini mengusulkan kebijakan Cultuur
stelsel atau Tanam Paksa untuk mengisi kas Negara yang kosong.
Ketentuan Cultuur Stelsel adalah sebagai berikut :
1. Seperlima
tanah milik rakyat yang subur diwajibkan untuk dijadikan areal tanan paksa
2. Tenaga yang
digunakan untuk bekerja dalam tanam paksa, tidak boleh melebihi tenaga yang
digunakan untuk menanam tanaman padi
3. Tanah yang
dijadikan areal tanam paksa dibebaskan dari membayar pajak
4. Kegagalan
panen akan ditanggung oleh pemerintah
5. Hasil dari
tanaman akan diserahkan kepada pemerintah
6. Apabila harga
dari hasil panen ditaksir melebihi pajak, maka kelebihannya akan dikembalikan
kepada rakyat
Akan tetapi dalam pelaksanaannya, ketentuan tersebut tidak
dilaksanakan sepenuhnya. Banyak terjadi penyelewengan ketentuan, diantaranya :
1. Tanah yang
dimiliki oleh penduduk untuk dijadikan tanam paksa bukan seperlima, melainkan
seluruhnya
2. Tanah yang
digunakan tetap dikenakan pajak
3. Apabila panen
gagal, maka yang menanggung bukan pemerintah melainkan rakyat
4. Apabila harga
dari hasil panen melebihi harga pajak, maka kelebihannya tidak diberikan kepada
rakyat
Pengaruh Tanam Paksa, antara lain :
a) Bagi Belanda
Kas Belanda menjadi surplus, karena mendapatkan keuntungan
yang sangat besar. Bahkan bangsa Belanda menjadi salah satu negara yang kaya di
Eropa
b) Bagi rakyat
Indonesia
ü Rakyat Indonesia mengenal jenis tanaman baru yang dapat
dijadikan komoditi ekspor
ü Penderitaan rakyat Indonesia semakin meningkat yang
mengakibatkan kelaparan
Akibat dari pelaksanaan tanam paksa ini, menimbulkan simpati
dari berbagai golongan, diantaranya :
1. Golongan
Humanis Belanda
a) Edward Douwes
Dekker, dengan nama samarannya Multatuli, ia menceritakan tentang dampak
pelaksanaan tanam paksa dalam sebuah buku yang berjudul Max Havelaar.
b) Baron van
Hoevel, seorang pendeta dari Belanda yang menaruh perhatian terhadap nasib
rakyat Indonesia melalui khutbahnya di gereja-gereja
c) Van de Venter,
mengkritik pelaksanaan tanam paksa dan mengharuskan pemerintah Belanda untuk
membahas kebaikan bangsa Indonesia melalui Politik Etis (politik balas budi)
yang isinya mengenai irigasi, edukasi, dan transmigrasi
2. Golongan
pemilik modal
Golongan kapitalis atau pemilik modal di Negara Belanda,
mendesak agar pemerintah Belanda menghapus pelaksanaan tanam paksa
danmemperbolehkan para pemilik modal untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Usaha yang dilakukan oleh golongan kapitalis ini berhasil. Setelah tanam paksa
dihentikan, mereka diperbolehkan menanamkan modalnya di Indonesia yang ditandai
dengan munculnya pelaksanaan Politik Pintu Terbuka.
3. Golongan
liberal di Negeri Belanda
Golongan liberal bertindak sebagai pihak oposisi dalam pemerintahan Belanda. Golongan liberal ini mendesak agar Tanam Paksa dihapuskan karena dianggap telah mendatangkan penderitaan bagi bangsa Indonesia hal ini tidak sesuai dengan pelaksanaan paham liberal. Tanam paksa akhirnya dapat dihapuskan sebagai gantinya Politik Pintu Terbuka. Bagi rakyat Indonesia pelaksanaan Politik Pintu Terbuka masih tidak dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Nasib rakyat Indonesia masih tetap menderita, karena masih banyak yang dipekerjakan sebagai buruh kasar di perkebunan Belanda dengan upah yang sangat rendah dan kerja yang sangat berat.
Uji Ketrampilan :
Dari materi diatas, buatlah analisis singkat tentang apa yang dimaksud dengan kolonialisme dan imperialisme? Mengapa praktek penjajahan bangsa Eropa dapat bertahan sekian lamanya? Pelajaran sejarah apa yang dapat kita petik dari praktek penjajahan ini?

No comments:
Post a Comment