PERJUANGAN
MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN
KEMERDEKAAN INDONESIA
1. Faktor penyebab terjadinya
konflik Indonesia-Belanda
1)
Kedatangan tentara
sekutu diboncengi oleh NICA
Semenjak Jepang
menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 maka secara
hukum tidak lagi berkuasa di Indonesia. Hal ini mengakibatkan Indonesia berada
dalam keadaan vacum of power (tidak ada pemerintah yang berkuasa) dan waktu itu
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan
kemerdekaannya. Pada tanggal 10 September 1945 Panglima Bala Tentara Kerajaan
Jepang di Jawa mengumumkan bahwa pemerintahan akan diserahkan pada Sekutu bukan
pada pihak Indonesia. Dan pada tanggal 14 September perwirwa Sekutu datang ke Jakarta
untuk mempelajari dan melaporkan keadaan di Indonesia menjelang pendaratan
rombongan Sekutu.
Pada tanggal 29
September 1945 akhirnya Sekutu mendarat di Indonesia yang bertugas melucuti
tentara Jepang. Semula rakyat Indonesia menyambut dengan senang hati kedatangan
Sekutu, karena mereka mengumandangkan perdamaian. Akan tetapi, setelah
diketahui bahwa Netherlands Indies Civil Administration (NICA) di bawah
pimpinan Van der Plass dan Van Mook ikut di dalamnya, sikap rakyat Indonesia
menjadi curiga dan bermusuhan. NICA adalah organisasi yang didirkan orang-orang
Belanda yang melarikan diri ke Australia setelah Belanda menyerah pada Jepang.
Organisasi ini semula didirikan dan berpusat di Australia. Keadaan bertambah
buruk karena NICA mempersenjatai kembali KNIL setelah dilepas oleh Sekutu dari
tawanan Jepang. Adanya keinginan Belanda berkuasa di Indonesia menimbulkan
pertentangan, bahkan diman-mana terjadi pertempuran melawan NICA dan Sekutu.
Tugas yang diemban
oleh Sekutu yang dalam hal ini dilakukan oleh Allied Forces Netherlands East
Indies (AFNEI) di bawah Letnan Sir Philip Christinson. Mereka memiliki
keinginan untuk menghidupkan kembali Hindia Belanda. Adapun tugas AFNEI di
Indonesia adalah sebagai berikut.
1.
Menerima penyerahan
dari tangan Jepang.
2.
Membebaskan para
tawanan perang dan interniran Sekutu.
3.
Melucuti dan
mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian dipulangkan.
4.
Menegakkan dan
mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintahan
sipil.
5.
Menghimpun keterangan
tentang penjahat perang dan menuntut mereka di depan pengadilan.
2)
Kedatangan Belanda (NICA) berusaha menegakkan
kembali kekuasaannya di Indonesia.
Kedatangan pasukan
Sekutu pada mulanya disambut dengan sikap netral oleh pihak Indonesia. Namun,
setelah diketahui bahwa Sekutu membawa NICA(Netherland Indies Civil
Administration) sikap masyarakat berubah menjadi curiga karena NICA adalah
pegawai sipil pemerintah Hindia Belanda yang dipersiapkan untuk mengambil alih
pemerintahan sipil di Indonesia. Para pemuda memberikan sambutan tembakan
selamat datang. Situasi keamanan menjadi semakin buruk sejak NICA
mempersenjatai kembali tentara KNIL yang baru dilepaskan dari tawanan Jepang.
Melihat kondisi yang
kurang menguntungkan, Panglima AFNEI menyatakan pengakuan sedara de facto atas
Republik Indonesia pada tanggal 1 Oktober 1945. Sejak saat itu, pasukan AFNEI
diterima dengan tangan terbuka oleh pejabat-pejabat RI di daerah-daerah untuk
membantu memperlancar tugas-tugas AFNEI.
Namun dalam
kenyataannya di daerah-daerah yang didatangi Sekutu selalu terjadi insiden dan
pertempuran dengan pihak RI. Hal itu disebabkan pasukan Sekutu tidak
bersungguh-sungguh menghormati kedaulatan RI. Sebaliknya pihak Sekutu yang
merasa kewalahan, menuduh pemerintah RI tidak mampu menegakkan keamanan dan
ketertiban sehingga terorisme merajalela. Pihak Belanda yang bertujuan
menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia berupaya memanfaatkan situasi ini
dengan memberi dukungan kepada pihak Sekutu. Panglima Angkatan Perang Belanda,
Laksamana Helfrich, memerintahkan pasukannya untuk membantu pasukan Sekutu.
Kedatangan tentara
Sekutu yang diboncengi NICA menyebabkan terjadinya konflik dan pertempuran di
berbagai daerah. Keinginan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia berhadapan
dengan rakyat Indonesia yang mempertahankan kemerdekaannya. Oleh karena itu,
terjadi pertempuran di berbagai daerah di Indonesia. Konflik antara
Indonesia-Belanda ini akhirnya melibatkan peran dunia internasional untuk
menyelesaikannya.
Peran dunia
internasional dalam penyelesaian konfik Indonesia-Belanda
a)
Peranan PBB
Peranan PBB dalam ikut
menyelesaikan pertikaian Indonesia dengan Belanda diwujudkan dengan
dibentuknya Badan Perdamaian yang bertugas menengahi perselisihan dan menjadi
mediator dalam perundingan perdamaian Indonesia Belanda. Dalam sejarah
perjuangan bangsa Indonesia setelah proklamasi tercatat ebeberapa
badan Perdamaian yang dibentuk PBB untuk Indonesia adalah :
1. Komisi Jasa Baik (Komisi Tiga Negara)
Lembaga ini dibentuk
pada tanggal 25 Agustus 1947 sebagai reaksi PBB terhadap Agresi Militer Belanda
I. Lembaga ini beranggotakan 3 negara :
a)
Australia (dipilih
oleh Indonesia) : Richard Kirby
b)
Belgia (dipilih oleh
Belanda)
: Paul Van Zealand
c)
Amerika Serikat (pihak
netral) :
dr. Frank Graham
Badan ini berperan
dalam :
1.
mengawasi secara
langsung penghentian temabak menenmbak sesuai resolusi Dewan Keamanan PBB
2.
memasang patok-patok
wilayah status quo yg dibantu oleh TNI
3.
mempertemukan kembali
Indonesia Belanda dalam Perundingan Renville.
b)
UNCI (United Nations Commisions
for Indonesia)
Badan perdamaian ini
dibentuk pada tanggfal 28 Januari 1949 untuk menggantikan Komisi Tiga Negara
yang dianggap gagal mendamaikan Indonesia – Belanda (Belanda kembali melakukan
Agresi Militer setelah P. Renville)
Peranan UNCI adalah :
1.
mengadakan Perundingan
Roem Royen (7 Mei 1949)
2.
mengadakan Konferensi
Meja Bundar di Den Haag Belanda
c)
Peranan
Negara Negara Lain
1. Konferensi Asia di
New Delhi (20 – 25 Januari 1949)
Konferensi ini terselenggara atas prakarsa PM
India Jawaharlal Nehru dan PM Burma (sekarang Myanmar) U Aung San, sebagai
bentuk dukungan kepada Indonesia setelah terjadinya Agresi Militer
Belanda II di Yogyakarta. Konferensi berhasil mendesak PBB untuk mengambil
langkah tegas atas tindakan Belanda yang melanggar kedaulatan
Republik Indonesia
Pengakuan Kedaulatan
RI
Walaupun bukan sayarat
utama berdirinya sebuah Negara, pengakuan negara lain sangat penting bagi
eksistensi sebuah Negara dalam pergaulan internasional. Pengakuan atas
kemerdekaan Indonesia pertama kali dari Mesir (14 Juli 1947) disusul
kemudian oleh Negara-negara Timur Tengah yang lain. Pengakuan ini atas kerja
keras Menteri Luar negeri H. Agus Salim yang mengadakan kunjungan ke Negara
Negara Timur Tengah.
Amerika Serikat dan
Inggris walaupun secara de facto juga mengakui kedaulatan RI pada tahun 1947.
Australia merupakan
salah satu pendukung utama RI pada masa-masa mempertahankana
kemerdekaan. Australia juga berpartisipasia dalam Konferensi New
Delhi.
2. Pengaruh
adanya konflik Indonesia-Belanda
1. Pengaruh wilayah facto RI
Pada akhir Agustus
1946, pemerintah Inggris mengirimkan Lord
Killearn ke Indonesia
untuk menyelesaikan perundingan antara Indonesia dengan Belanda. Pada tanggal 7
Oktober 1946 bertempat di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta dibuka
perundingan Indonesia-Belanda dengan dipimpin oleh Lord Killearn. Perundingan
ini menghasilkan persetujuan gencatan senjata (14
Oktober) dan meratakan jalan
ke arah perundingan di Linggarjati yang dimulai tanggal 11
November 1946. Dalam
perundingan ini Indonesia diwakili oleh Sutan
Syahrir, Belanda diwakili
oleh tim yang disebut Komisi Jendral dan dipimpin oleh Wim
Schermerhorn dengan
anggota H.J. van Mook, dan Lord
Killearn dari Inggris
bertindak sebagai mediator dalam perundingan ini.
Hasil perundingan
terdiri dari 17 pasal yang antara lain berisi:
1. Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura.
2. Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling
lambat tanggal 1 Januari 1949.
3. Pihak Belanda dan Indonesia Sepakat membentuk
negara RIS.
4. Dalam bentuk RIS Indonesia harus tergabung
dalam Commonwealth /Persemakmuran Indonesia-Belanda dengan mahkota negeri
Belanda sebagai kepala uni.
Dalam perundingan ini
Indonesia dirugikan karena wilayah Indonesia hanya meliputi Jawa, Sumatra dan
Madura. Pelaksanaan hasil perundingan ini juga tidak berjalan mulus. Pada
tanggal 20 Juli 1947, Gubernur
Jendral H.J. van Mook
akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian ini, dan
pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I. Hal ini merupakan akibat dari perbedaan penafsiran
antara Indonesia dan Belanda.
1)
Berdirinya Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI)
Pada tanggal 19
Desember 1948 agresi militer kedua dilancarkan Belanda dengan sasaran langsung
ditujukan ke ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta. Presiden, Wakil Presiden
dan beberapa pejabat tinggi lainnya ditahan oleh Belanda. Sebelum terjadinya
aksi penangkapan, pemerintah RI melakukan sidang darurat yang salah satu
keputusannya memberi mandat kepada menteri kemakmuran, Mr.
Syafruddin Prawiranegara untuk
membentuk pemerintahan darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera.
Mandat tersebut
ditandatangani oleh Presiden dan Wakil Presiden RI. Untuk menjaga kemungkinan gagalnya
pembentukan Pemerintahan darurat Republik Indonesia di Sumatera, Menteri Luar
negeri Republik Indonesia H. Agus Salim mengirimkan mandat kepada Mr. A. A.
maramis, L.N. Palar, dan Dr. Sidarsono yang sedang berada di India untik
membentuk pemerintahan pengasingan (exile government) di new Delhi, India.
Mr.
Syafruddin Prawiranegara tidak
segera mengumumkan terbentuknya pemerintahan Darurat republik Indonesia di Sumatera,
sebab ia ingin memastikan bahwa para pemimpin Republik Indonesia di Yogyakarta
benar-benar telah ditahan. Setelah mendapat konfirmasi dari Mohammad Rasyid
(residen Sumatera Barat) tentang penangkapan tersebut, barulah Mr.
Syafruddin Prawiranegara mengumumkan
berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pada tanggal 22 Desember
1948 yang berkedudukan di Bukittinggi.
Keberadaan
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia kemudian diumumkan lewat radio ke
seluruh dunia. Ia mengatakan bahwa pemerintahan Republik Indonesia tetap ada
dan propaganda Belanda yang menyatakan bahwa pemerintahan Republik Indonesia
telah musnah tidak benar.
Keberadaan
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia ternyata diakui didalam dan luar
negeri. Kalangan pejabat tinggi TNI, sperti soedirman, A.H. nasution dan T.B.
Simatupang segera mengitrim telegram ke Sumatera, menyatakan bahwa mulai saat
itu tentara Republik tunduk kepada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.
Sementara itu kontak-kontak Pemerintahan Darurat Republik Indonesia via India
kedunia Internasional telah menyebabkan semua negara (kecuali Belgia) mengecam
tindakan Belanda di Indonesia. Pihak Belanda benar-benar dibuat sebagai “tersangka”
yang kehilangan muka di panggung pengadilan dunia. Kemenangan militer Belanda
dalam agresi militer pertama semakin tidak berarti dan sia-sia, sebab akhirnya
Belanda harus menarik pasukan kedaerah-daerah yang didudukinya. Dengan demikian
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia berhasil mempertahankan keberadaan
Republik Indonesia dalam situasi yang amat kritis.
2)
Pembentukan
negara-negara boneka Belanda
Berbagai macam cara
dilakukan Belanda untuk menguasai Indonesia kembali diantaranya pembentukan
Negara-negara boneka. Pihak Belanda membentuk pemerintahan Federal dengan Van
Mook sebagai kepala pemerintahannya. Dalam Konferensi Federal di Bandung pada
tanggal 27 Mei 1948 lahirlah Badan Permusyawaratan Federal (BFO: Bijeenkomst
voor Federal Overleg) didalam BFO terhimpun Negara-negara boneka ciptaan
Belanda
1)
Negara Indonesia
Timur, terbentuk pada Desember 1946 dengan wali negara Cokorda Gde Raka
Sukarwati.
2) Negara Sumatra Timur, terbentuk pada 24 Maret
1948 dengan wali negara Dr. Mansyur.
3) Negara Sumatra Selatan, terbentuk pada 30
Agustus 1948 dengan wali negara Abdul Malik.
4) Negara Jawa Timur, terbentuk pada 26
November 1948 dengan kepala negara RT. Kusumonegoro.
5) Negara Pasundan, terbentuk pada 26 Februari
1948 dengan wali negara RAA. Wiranatakusumah.
3)
Munculnya semangat nasionalisme anti
penjajahan
Munculnya semangat
nasionalisme tersebut dipengaruhi oleh:
1)
Faktor dalam
(internal):
·
Kenangan kejayaan masa
lampau
·
Perasaan senasib dan
sepenanggungan akibat penderitaan dan kesengsaraan masa penjajahan
·
Munculnya golongan
cendekiawan
·
Paham nasionalis dalam
bidang politik, sosial ekonomi, dan kebudayaan
2)
Faktor luar
(eksternal):
· Kemenangan Jepang atas Rusia
· Perkembangan nasionalisme di berbagai
negara
Karena adanya faktor
pendukung diatas maka di Indonesiapun mulai muncul semangat nasionalisme.
Semangat nasionalisme ini digunakan sebagai ideologi/paham bagi organisasi
pergerakan nasional yang ada. Ideologi Nasional di Indonesia diperkenalkan
oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang diketuai oleh Ir.
Soekarno. PNI bertujuan untuk
memperjuangkan kehidupan bangsa Indonesia yang bebas dari penjajahan. Sedangkan
cita-citanya adalah mencapai Indonesia merdeka dan berdaulat, serta mengusir
penjajahan pemerintahan Belanda di Indonesia. Dengan Nasionalisme
dijadikan sebagai ideologi maka akan menunjukkan bahwa suatu bangsa memiliki
kesamaan budaya, bahasa, wilayah serta tujuan dan cita-cita. Sehingga akan
merasakan adanya sebuah kesetiaan yang mendalam terhadap kelompok bangsa
tersebut.
4)
Timbulnya perlawanan bangsa Indonesia
USAHA
MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (PASCA TAHUN 1945)
Sebelum memperoleh
kemedekaan, bangsa Indonesia terlebih dahulu memproklamasikan kemerdekaannya
yang dikenal dengan “Proklamasi Kemerdekaan”. Proses ini berawal dari
terdengarnya berita kekalahan Jepang dari pihak sekutu, seketika juga kelompok
pemuda mendesak Sukarno-Hata untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Bangsa
Indonesia. Akan tetapi dengan alasan menunggu janji Jepang untuk memberikan
kemerdekaan Indonesia, Sukarno-Hata tidak dengan segera memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia. Hal inilah yang mendorong para pemuda melakukan aksi
penculikan terhadap Sukarno-Hata ke Rengasdengklok yang akhirnya dikenal dengan
“Peristiwa Rengasdengklok”. Proses perumusan teks prokalamasi
kemerdekaan bertempat di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda dengan tujuan
keamanan dan tidak terganggu oleh pihak Jepang.
Upaya
mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai upaya, yaitu perlucutan
senjata Jepang, menghadapi tentara sekutu dan NICA, serta perjuangan politik
untuk mendapatkan pengakuan internasional. Kedatangan pihak sekutu ke Indonesia
dengan tujuan melepaskan tawanan perang tentara sekutu dari Jepang dan melucuti
tentara Jepang pada awalnya diterima dengan baik oleh rakyat Indonesia. Namun
setelah tahu kedatangan sekutu diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil
Administration) dengan tujuan Belanda ingin menguasai kembali wilayah
Indonesia, akhirnya terjadilah konflik di berbagai daerah di Indonesia. Pada
masa itu Belanda melalui pemimpin Van Mook membentuk Negara-negara bagian,
yaitu NIT (Negara Indonesia Timur), Negara Pasundan, Daerah Istimewa Borneo
Barat, Negara Madura, Negara Sumatra Timur, Negara Jawa Timur.
1)
Pertempuran Surabaya
Tanggal 25 Oktober
1945, tentara Sekutu mendarat di Tanjung Perak, Surabaya. Tentara Sekutu di
bawah pimpinan Brigadir Jendral Mallaby. Kedatangan tentara tersebut diikuti
oleh NICA. Mula-mula tentara NICA melancarkan hasutan sehingga menimbulkan
kekacauan di Surabaya. Hal tersebut menimbulkan bentrokan antara rakyat
Surabaya dengan tentara Sekutu. Tanggal 28 Oktober hingga 31 Oktober 1945
terjadi pertempuran yang hebat. Ketika terdesak, tentara Sekutu mengusulkan
perdamaian. Tentara Sekutu mendatangkan pemimpin-pemimpin Indonesia untuk
mengadakan gencatan senjata di Surabaya. Tentara Sekutu tidak menghormati
gencatan senjata. Dalam insiden antara rakyat Surabaya dan tentara Sekutu,
Brigjen Mallaby terbunuh. Letnan Jendral Christison Panglima Sekutu di
Indonesia, meminta kepada pemerintah Indonesia menyerahkan orang-orang yang
dicurigai membunuh Jendral Mallaby. Permintaan tersebut diikuti ultimatum dari
Mayor Jendral Mansergh. Isi ultimatum tersebut: Sekutu memerintahkan rakyat
Surabaya menyerahkan senjatanya. Penyerahan paling lambat tanggal 9 November
1945 pukul 18.00 WIB. Apabila ultimatum tersebut tidak dilaksanakan, Kota
Surabaya akan diserang dari darat, laut, dan udara. Gubernur Suryo, diberi
wewenang oleh pemerintah pusat untuk menentukan kebijaksanaannya. Beliau
bermusyawarah dengan pimpinan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan para pemimpin perjuangan
rakyat di Surabaya. Hasil musyawarah tersebut adalah rakyat Surabaya menolak
ultimatum dan siap melawan ancaman Sekutu. Tanggal 10 November 1945 pukul
06.00, tentara Sekutu menggempur Surabaya dari darat, laut maupun udara. Di
bawah pimpinan Gubernur Suryo dan Sutomo (Bung Tomo) rakyat Surabaya tidak mau
menyerahkan sejengkal tanah pun kepada tentara Sekutu. Dengan pekik Allahu
Akbar, Bung Tomo membakar semangat rakyat. Dalam pertempuran yang berlangsung
sampai awal Desember itu gugur beribu-ribu pejuang Indonesia. Pemerintah
menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Hari Pahlawan untuk
memperingati jasa para pahlawan. Perlawanan rakyat Surabaya mencerminkan tekad
perjuangan seluruh rakyat Indonesia.
Pertempuran Surabaya
merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan
sekutu. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di kota
Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia
dengan pasikan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan salah satu
pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia
yang menjadi simbol nasional perlawanan nasional terhadap kolonialisme.
Tentara sekutu
mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945, dibawah pimpinan Brigjen
Aubertin Walter Sothern (A.W.S) Mallaby yang berkebangsaan Inggris. Kedatangan
pasukan sekutu disambut baik oleh Gubernur Jawa Timur R.M.T.A Soeryo. Kemudian
antara wakil-wakil pemerintahan RI dan Brigjen AW.S Mallaby mengadakan
pertemuan yang menghasilkan kesepakatan sebagai berikut :
Inggris berjanji mengikut sertakan Angkatan
Perang Belanda
Disetujui kerjasama kedua belah pihak untuk
menjamin keamanan dan ketentraman
Akan dibentuk kontak biro agar kerja sama
berjalan lancar
Inggris hanya akan melucuti senjata jepang
Pada tanggal 26
Oktober 1945 pasukan sekutu melanggar kesepakatan terbukti melakukan
penyergapan ke penjara Kalisosok. Mereka akan membebaskan para tawanan Belanda
diantaranya adalah Kolonel Huiyer. Tindakan ini dilanjutkan dengan penyebaran
pamphlet-pamflet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya menyerahkan
senjata-senjata mereka. Rakyat Surabaya dan TKR bertekad akan mengusir Sekutu
dari bumi Indonesia dan tidak akan
menyerahkan senjata mereka.
Kontak senjata antara
rakyat Surabaya melawan Inggris terjadi pada tanggal 27 Oktober 1945. Para
pemuda dengan perjuangan yang gigih dapat melumpuhkan tank-tank Sekutu dan
berhasil menguasai objek-objek vital. Strategi yang digunakan rakyat Surabaya
adalah dengan mengepung dan menghancurkan pemusatan-pemusatan tentara Inggris
kemudian melumpuhkan hubungan logistiknya. Serangan tersebut mencapai
kemenangan yang gemilang walaupun dipihak kita banyak jatuh korban. Pada
tanggal 29 Oktober 1945 Bung Karno beserta Jenderal D.C Hawthorn tiba di
Surabaya. Dalam perundingan antara pemerintahan RI dengan Mallaby dicapai
kesepakatan untuk menghentikan kontak senjata. Kesepakatan ini dilanggar oleh
pihak sekutu.
Pada tanggal 30
Oktober 1945 terjadi pertempuran yang hebat di Gedung Bank Internatio dan
Jembatan Merah. Pertempuran itu menewaskan Brigjen A.W.S Mallaby. Kematian
Brigjen A.W.S Mallaby itu mejadi dalih bagi Inggris untuk menggempur rakyat
Surabaya dan menuntut “menyerah tanpa syarat”.
Pada tanggal 7
November 1945, pemimpin tentara Inggris yang baru, Mayjen E.C Marsergh
memberikan ultimatum kepada rakyat Surabaya, dengan isi ultimatumnya adalah :
Rakyat Surabaya harus bertanggung jawab atas
terbunuhnya Brigjen A.W.S Mallaby.
Rakyat Surabaya harus menyerahkan senjata dan
mengibarkan bendera putih sebagai tanda “menyerah”.
Batas waktu yang
ditentukan untuk ultimatum ini adalah paling lambat tanggal 10 November 1945,
pukul 06.00 WIB. Jika ultimatum tidak dilaksanakan, maka pasukan Inggris akan
mengerahkan pasukan infantri dengan senjata berat untuk menyerbu Surabaya dari
darat, laut, maupun udara.
Ultimatum ini dirasa
menghina terhadap bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang cinta
damai tetapi lebih cinta kemerdekaan. Oleh karena tepat pukul 22.00 tanggal 9
November 1945 rakyat Surabaya menolak ultimatum tersebut secara resmi melalui
pernyataan Gubernur Soeryo. Karena penolakan ultimatum itu maka meletuslah pertempuran
pada tanggal 10 November 1945. Melalui siaran radio yang dipancarkan dari Jl.
Mawar No. 4 Bung Tomo membakar semangat juang arek-arek Surabaya dan
menciptakan pekik persatuan demi revolusi yaitu “merdeka atau mati”. Di samping
itu juga merupakan titik balik bagi Belanda karena mengejutkan pihak Belanda
yang tidak menyangka kekuatan RI mendapat dukungan rakyat. Rakyat Surabaya
tidak takut dengan gempuran Sekutu. Kontak senjata pertama terjadi di Perak
sampai pukul 18.00. pasukan sekutu dibawah pimpinan Jenderal Mansergh
mengerahkan satu divisi infantri sebanyak 10.000 - 15.000 orang dibantu
tembakan dari laut oleh kapal perang penjelajah “Sussex” serta pesawat tempur
“mosquito” dan “Thunderbolt”.
Pertempuran
berlangsung selama tiga minggu. Dalam pertempuran di Surabaya ini seluruh unsur
kekuatan rakyat bahu membahu, baik dari TKR, PRI, BPRI, Tentara Pelajar, Polisi
Istimewa, BBI, PTKR, maupun TKR laut dibawah komandan pertahanan Kota,
Soengkono. Peristiwa 10 November ini juga tidak lepas dari peran kaum ulama.
Ulama besar seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, serta kyai – kyai
pesanren lainnya yang mengerahkan santri – santri merekan dan masyarakat sipil
sebagai milisi perlawanan. Akibat pertempuran tersebut ± 6.000 rakyat Surabaya
gugur. Pengaruh pertempuran Surabaya berdampak luas di kalangan internasional,
bahkan masuk dalam agenda sidang Dewan Keamanan PBB tanggal 7-13 Februari 1946.
Kota Surabaya memang
hancur, tetapi pertempuran ini menunjukkan suatu semangat serta sikap pantang
mundur para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Untuk mengenang
perjuangan arek – arek Surabaya, di kota ini kemudian dibangun Tugu Pahlawan
dan setiap tanggal 10 November di peringati sebagai Hari Pahlawan.
2)
Pertempuran Lima Hari di Semarang
Pertempuran ini
terjadi pada tanggal 15 Oktober 1945. Kurang lebih 2000 pasukan Jepang
berhadapan dengan TKR dan para pemuda. Peristiwa ini memakan banyak korban dari
kedua belah pihak. Dr. Karyadi menjadi salah satu korban sehingga namanya
diabadikan menjadi nama salah satu Rumah sakit di kota Semarang sampai
sekarang. Untuk memperingati peristiwa tersebut maka pemerintah membangun
sebuah tugu yang diberi nama Tugu Muda.
3)
Pertempuran Ambarawa
Pertempuran ini
diawali dengan kedatangan tentara Inggris di bawah pimpinan Brigjen Bethel di
Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945 untuk membebaskan tentara Sekutu. Setelah
itu menuju Magelang, karena Sekutu diboncengi oleh NICA dan membebaskan para
tawanan Belanda secara sepihak maka terjadilah perlawanan dari TKR dan para
pemuda. Pasukan Inggris akhirnya terdesak mundur ke Ambarawa. Dalam peristiwa
tersebut Letkol Isdiman gugur sebagai kusuma bangsa. Kemudian Kolonel Sudirman
terjun langsung dalam pertempuran tersebut dan pada tanggal 15 Desember 1945 tentara
Indonesia berhasil memukul mundur Sekutu sampai Semarang. Karena jasanya maka
pada tanggal 18 Desember 1945 Kolonel Sudirman diangkat menjadi Panglima Besar
TKR dan berpangkat Jendral. Sampai sekarang setiap tanggal 15 Desember
diperingati sebagai hari Infantri.
Kedatangan sekutu di
Semarang tanggal 20 Oktober 1945 dibawah pimpinan Brigadir Jenderal Bethel
semula diterima dengan baik oleh Gubernur Jawa Tengah Mr. Wongsonegoro karena
akan mengurus tawanan perang. Akan tetapi, secara diam-diam mereka bersama-sama
NICA dan mempersenjatai para bekas tawanan perang Ambarawa dan Magelang. Hal
ini menimbulkan kemarahan pihak Indonesia, maka konflik bersenjata tidak bisa
dihindari.
Setelah terjadi
insiden di Magelang antara TKR dengan tentara Sekutu maka tanggal 2 November
1945 Presiden Soekarno dan BrigJend
Bethtel mengadakan perundingan gencatan senjata. Berikut ini 3 dari 12 butir
kesepakatan antara pemerintah RI dan pihak sekutu :
·
Sekutu akan tetap
menempatkan pasukannya di Magelang dalam rangka menyelesaikan tugas pokoknya,
yaitu mengurus para tahanan, tetapi dengan jumlah yang terbatas.
·
Jalan raya antara
Magelang dan Semarang tetap dibuka bagi lalu lintas tentara sekutu dan
masyarakat Indonesia.
·
Sekutu tidak akan
mendukung aktifitas NICA dalam badan – badan yang berada di bawah kekuasaannya.
Dalam kenyataannya
pihak sekutu melanggar kesepakatannya, salah satunya adalah menambah jumlah
pasukannya di Magelang. Pertempuran Ambarawa dimulai dari insiden yang terjadi
di Magelang pada tanggal 26 Oktober 1945. Pada tanggal 20 November 1945 di
Ambarawa pecah pertempuran antara pasukan TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto
melawan tentara Sekutu. Pertempuran Ambarawa mengakibatkan gugurnya Letkol
Isdiman, Komandan Resimen Banyumas. Posisi Letkol Isdiman kemudian digantikan
oleh Letkol Soedirman. Kehadiran Letkol Soedirman memberikan nafas baru kepada
pasukan – pasukan RI. Koordinasi diadakan kepada para komandan - komandan
sektor untuk menyusun strategi penyerangan terhadap musuh.
Pada tanggal 21
November 1945 pasukan Sekutu mundur dari Magelang ke Ambarawa. Gerakan ini
segera dikejar resimen Kedu Tengah
dibawah pimpinan Letnal Kolonel M. Sarbini dan meletuslah pertempuran
Ambarawa. Pasukan Angkatan muda dibawah
Pimpinan Sastrodihardjo yang diperkuat
pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta menghadang sekutu di
desa Lambu. Pada tanggal 12 Desember 1945 pasukan TKR berhasil mengepung musuh
yang bertahan dibenteng Willem, yang terletak ditengah-tengah kota Ambarawa.
Selama 4 hari 4 malam kota Ambarawa di kepung. Kerena merasa terjepit maka pada
tanggal 15 Desember 1945 pasukan Sekutu meninggalkan Ambarawa menuju ke
Semarang.
Pertempuran di
Ambarawa sering dikenal dengan peristiwa “Palagan Ambarawa”. Untuk mengenang
peristiwa tersebut dibangun Monumen Palagan Ambarawa di tengah kota Ambarawa.
4)
Pertempuran Medan Area
Pada tanggal 9 Oktober
1945 pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda dan NICA di bawah pimpinan Brigjen
T.E.D. Kelly mendarat di Medan. Pada tanggal 13 Oktober 1945 para pemuda yang
tergabung dalam TKR terlibat bentrok dengan pasukan Belanda, sehingga hal ini
menjalar ke seluruh kota Medan. Hal ini menjadi awal perjuangan bersenjata yang
dikenal dengan Pertempuran Medan Area.
Berita Proklamasi
Kemerdekaan baru sampai di Medan pada tanggal 27 Agustus 1945. Hal ini
disebabkan sulitnya komunikasi dan adanya sensor dari tentara Jepang. Berita
tersebut dibawa oleh Mr. Teuku M. Hasan yang diangkat menjadi Gubernur Sumatra.
Ia ditugaskan oelh pemerintah untuk menegakkan kedaulatan Republik Indonesia di
Sumatra dengan membentuk Komite Nasional Indonesia di wilayah itu.
Pada tanggal 9 Oktober
1945 pasukan sekutu mendarat di Sumatra Utara di bawah pimpinan Brigadir
Jenderal E.T.D. Kelly. Awalnya mereka diterima secara baik oleh pemerintah RI
di Sumatra Utara sehubungan dengan tugasnya untuk membebaskan tawanan perang
(tentara Belanda). Akan tetapi, serdadu Belanda dan NICA ikut membonceng
pasukan ini yang dipersiapkan mengambil alih pemerintahan. Hal ini menimbulkan
konflik dengan TKR dan BPI (Barisan Pemuda Indonesia) pimpinan Achmad Tahir
yang merupakan bekas seorang perwira tentara sukarela.
Sebuah insiden terjadi
di hotel Jalan Bali, Medan pada tanggal 13 Oktober 1945. Saat itu seorang
penghuni hotel (pasukan NICA) merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih
yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan para pemuda.
Akibatnya terjadi perusakan dan penyerangan terhadap hotel yang banyak dihuni
pasukan NICA. Setelah kejadian tersebut pada tanggal 18 Oktober 1945 Brigadir
Jenderal T.E.D Kelly memberikan ultimatum kepada pemuda Medan agar menyerahkan
senjatanya. Aksi-aksi teror mulai dilakukan oleh Sekutu dan NICA. Pada tanggal
1 Desember 1945 Sekutu memasang papan-papan bertuliskanFixed Boundaries
Medan Area (Batas Resmi Wilayah Medan)
di berbagai sudut pinggiran Kota Medan. Tulisan ini semacam “garis polisi”,
yang diyakini akan menghambat pergerakan para pemuda dan TKR terhadap pasukan
sekutu.
Pada tanggal 10
Desember 1945 pasukan Sekutu melancarkan serangan militer secara besar-besaran
dengan menggunakan pesawat-pesawat
tempur. Pada bulan April 1946 pasukan inggris berhasil mendesak
pemerintahan RI ke luar Medan. Gubernur, Markas Divisi TKR, Walikota RI pindah
ke Pematang Siantar. Walaupun belum berhasil menghalau pasukan Sekutu, rakyat
Medan terus berjuang dengan membentuk Laskar Rakyat Medan Area.
Selain di daerah
Medan, di daerah-daerah sekitarnya juga terjadi perlawanan rakyat terhadap
Jepang, Sekutu, dan Belanda. Di Padang dan Bukit Tinggi pertempuran berlangsung
sejak bulan November 1945. Sementara itu dalam waktu yang sama di Aceh terjadi
pertempuran melawan Sekutu. Dalam pertempuran ini Sekutu memanfaatkan
pasukan-pasukan Jepang untuk menghadapi perlawanan rakyat sehingga pecah pertempuran
yang dikenal dengan peristiwaKrueng Panjol Bireuen. Pertempuran di sekitar
Langsa/Kuala Simpang Aceh semakin sengit ketika pihak rakyat dipimpin langsung
oleh Residen Teuku Nyak Arief. Dalam pertempuran ini pejuang kita berhasil
mengusir Jepang. Dengan demikian diseluruh Sumatra rakyat bersama pemerintah
membela dan mempertahankan kemerdekaan.
5)
Bandung Lautan Api
Kota Bandung dimasuki
pasukan Inggris pada bulan Oktober 1945. Sekutu meminta hasil lucutan tentara
Jepang oleh TKR diserahkan kepada Sekutu. Pada tanggal 21 November 1945 Sekutu
mengultimatum agar kota Bandung dikosongkan. Hal ini tidak diindahkan oleh TRI
dan rakyat. Perintah ultimatum tersebut diulang tanggal 23 Maret 1946.
Pemerintah RI di Jakarta memerintahkan supaya TRI mengosongkan Bandung, tetapi
pimpinan TRI di Yogyakarta mengintruksikan supaya Bandung tidak dikosongkan.
Akhirnya dengan berat hati TRI mengosongkan kota Bandung. Sebelum keluar
Bandung pada tanggal 23 Maret 1946 para pejuang RI menyerang markas Sekutu dan
membumihanguskan Bandung bagian selatan. Untuk mengenang peristiwa tersebut
Ismail Marzuki mengabadikannya dalam sebuah lagu yaitu Hallo-hallo bandung
Terjadinya peristiwa
Bandung Lautan Api diawali dari datangnya Sekutu pada tanggal 17 Oktober 1945.
Pada waktu itu para pemuda dan pejuang di kota Bandung sedang gencar-gencarnya
merebut senjata dan kekuasaan dari tangan Jepang. Oleh Sekutu, senjata dari
hasil pelucutan tentara Jepang supaya diserahkan padanya. Bahkan pada tanggal
21 November 1945, TKR dan badan – badan perjuangan melancarkan serangan
terhadap wilayah kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan
Hotel Preager yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, sekutu
menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung bagian utara
dikosongkan oleh pihak Indonesia paling lambat tanggal 29 November 1945 dengan
alasan untuk menjaga keamanan. Oleh para pejuang, ultimatum tersebut tidak
diindahkan dan mendorong pasukan TRI untuk melakukan operasi “bumi hangus”.
Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean
Perdjoangan Priangan (MP3).
Sekutu mengulangi
ultimatumnya pada tanggal 23 Maret 1945 yakni agar TRI meninggalkan kota
Bandung. Menghadapi ultimatum tersebut para pejuang kebingungan karena mendapat
dua perintah yang berbeda. Pemerintah RI di Jakarta yang diwakili oleh Komandan
divisi III TRI Kolonel Abdul Haris Nasoetion memerintahkan agar TRI
mengosongkan kota Bandung. Sementara markas TRI di Yogyakarta menginstruksikan
agar Bandung tidak dikosongkan. Akhirnya para pejuang mematuhi perintah dari
Jakarta. Pada tanggal 23-24 Maret 1946 para pejuang meninggalkan Bandung
walaupun dengan berat hati. Namun sebelum meninggalkan kota Bandung, terlebih
dahulu para pejuang Republik Indonesia menyerang ke arah kedudukan - kedudukan
Sekutu sambil membumihanguskan kota Bandung bagian Selatan. Tujuannya agar
Sekutu tidak dapat menduduki dan memanfaatkan sarana-sarana yang vital.
Peristiwa ini dikenal dengan Bandung Lautan Api. Sementara itu para pejuang dan
rakyat Bandung mengungsi ke luar kota.
Dalam peristiwa
Bandung Lautan Api gugur seorang pahlawan yang bernama Moh. Toha dan
Ramdan dua milisi Barisan Rakyat
Indonesia (BRI). Untuk mengabadikan terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api,
seorang komposer yang bernama Ismail Marzuki menciptakan lagu “Halo - Halo Bandung”.
6)
Peristiwa Merah Putih
di Menado
Terjadi pada tanggal
14 Desember 1945 di mana para pemuda Menado yang tergabung dalam pasukan KNIL
bersama rakyat berhasilo merebut Menado, Tomohon, dan Minahasa dari tangan
sekutu/Belanda. Daerah yang direbut tersebut dikibarkan bendera Merah Putih.
Peristiwa Merah Putih
terjadi tanggal 14 Februari di Manado. Para pemuda tergabung dalam pasukan KNIL
Kompeni VII bersama laskar rakyat dari barisan pejuang melakukan perebutan
kekuasaan pemerintahan di Manado, Tomohon, dan Minahasa. Sekitar 600 orang
pasukan dan pejabat Belanda berhasil ditahan. Pada tanggal 16 Februari 1946
mereka mengeluarkan surat selebaran yang menyatakan bahwa kekuasaan diseluruh
Manado telah berada di tangan Republik Indonesia. Untuk memperkuat kedudukan
Republik Indonesia, para pemimpin dan pemuda menyusun pasukan keamanan dengan
nama Pasukan Pemuda Indonesia yang dipimpin oleh Mayor Waisan.
Bendera Merah Putih
dikibarkan diseluruh pelosok Minahasa hampir selama satu bulan, yaitu sejak
tanggal 14 Februari 1946. Dr. Sam Ratulangi diangkat sebagai Gubernur Sulawesi
bertugas untuk memperjuangkan keamanan dan kedaulatan rakyat Sulawesi. Ia
memerintahkan pembentukan badan perjuangan pusat keselamatan rakyat. Dr. Sam
Ratulangi membuat petisi yang ditandatangani oleh 540 pemuka masyarakat
Sulawesi. Dalam petisi itu dinyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi tidak dapat
dipisahkan dari Republik Indonesia. Oleh karena petisi itu, pada tahun 1946,
Sam Ratulangi ditangkap dan dibuang ke Serui (Irian Barat dan sekarang Papua).
7)
Pertempuran Puputan
Margarana di Bali
Puputan artinya perang
habis-habisan. Perang ini terjadi pada tanggal 26 November 1946 antara pasukan
Belanda dan rakyat Bali. Dalam peperangan ini tokoh Ngurah Rai dan seluruh
pasukannya gugur.
Salah satu isi
perundingan Linggajati pada tanggal l0 November 1946 adalah bahwa Belanda
mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang
meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Selanjutnya Belanda harus sudah
meninggalkan daerah de factopaling lambat tanggal 1 Januari 1949. Pada tanggal
2 dan 3 Maret 1949 Belanda mendaratkan pasukannya ± 2000 tentara di Bali, ikut
pula tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Pada waktu itu Letnan Kolonel I Gusti
Ngurah Rai Komandan Resimen Nusa Tenggara sedang pergi ke Yogyakarta untuk
mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI. Sementara itu perkembangan
politik di pusat Pemerintahan Republik Indonesia kurang menguntungkan akibat
perundingan Linggajati di mana Bali tidak diakui sebagai bagian wilayah
Republik Indonesia. Rakyat Bali merasa kecewa terhadap isi perundingan ini.
Lebih-lebih ketika Belanda membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai diajak
membentuk Negara Indonesia Timur. Ajakan tersebut ditolak dengan tegas oleh I
Gusti Ngurah Rai, bahkan dijawab dengan perlawanan bersenjata Pada tanggal 18
November 1946 I Gusti Ngurah Rai memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke
tangsi NICA di Tabanan.
Konsolidasi dan
pemusatan pasukan Ngurah Rai (yang dikenal dengan nama pasukan Ciung Wanara) ditempatkan
di Desa Adeng Kecamatan Marga. Belanda menjadi gempar dan berusaha mencari
pusat kedudukan pasukan Ciung Wanara. Pada tanggal 20 November 1946 dengan
kekuatan besar Belanda melancarkan serangan dari udara terhadap kedudukan
Ngurah Rai di desa Marga. Pertempuran hebat terjadi pada tanggal 29 November
1946 di Margarana, sebelah utara Tabanan. Karena kalah dalam persenjataan maka
pasukan Ngurah Rai dapat dikalahkan.
Dalam keadaan kritis,
Letkol I Gusti Ngurah Rai mengeluarkan perintah “Puputan” yang berarti
bertempur sampai habis-habisan (fight to the end) demi membela Nusa dan Bangsa.
Letkol I Gusti Ngurah Rai gugur beserta seluruh anggota pasukan dalam
pertempuran tersebut sebagai kusuma bangsa. Jenazahnya dimakamkan di desa
Marga. Pertempuran tersebut terkenal dengan nama Puputan Margarana. Gugurnya
Letkol I Gusti Ngurah Rai telah melicinkan jalan bagi usaha Belanda untuk
membentuk Negara Indonesia Timur.
Untuk mengenang jasa
Letkol I Gusti Ngurah Rai, maka nama I Gusti Ngurah Rai diabadikan menjadi
sebuah nama bandara di Denpasar, Bali. Nama Bandara tersebut adalah bandara
“Ngurah Rai”. Di samping itu juga dianugerahi sebagai Pahlawan Anumerta.
8)
Pertempuran 11
Desember 1946 di Sulawesi Selatan
Pertempuran ini
terjadi di wilayah Sulawesi Selatan sperti Polongbangkeng, Pare-Pare, dan Luwu.
Pejuang yang gugur salah satunya yaitu Emmy Saelan.
Sebagai Gubernur
Sulawesi Selatan yang diangkat tahun 1945, Dr. G.S.S.J. Ratulangie melakukan
aktivitasnya dengan membentuk Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI).
Organisasi yang bertujuan untuk menampung aspirasi pemuda ini pernah dipimpin
oleh Manai Sophian.
Sementara itu pada
bulan Desember 1946 Belanda mengirimkan pasukan ke Sulawesi Selatan di bawah
pimpinan Raymond Westerling. Kedatangan pasukan ini untuk “membersihkan” daerah
Sulawesi Selatan dari pejuang-pejuang Republik dan menumpas perlawanan rakyat
yang menentang terhadap pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT).
Di daerah ini pula,
pasukan Australia yang diboncengi NICA mendarat kemudian membentuk pemerintahan
sipil di Makassar, karena Belanda melakukan usaha memecah belah rakyat maka
tampillah pemuda-pemuda pelajar seperti A. Rivai, Paersi, dan Robert Wolter
Monginsidi melakukan perlawanan dengan merebut tempat-tempat strategis yang
dikuasai NICA. Selanjutnya untuk menggerakkan perjuangan dibentuklah Laskar
Pemberontak Indonesia Sulawesi (LAPRIS) dengan tokoh - tokohnya Ranggong Daeng
Romo, Makkaraeng Daeng Djarung, dan Robert Wolter Monginsidi sebagai Sekretaris
Jenderalnya.
Sejak tanggal 7 – 25
Desember 1946 pasukan Westerling secara keji membunuh beribu-ribu rakyat yang
tidak berdosa. Pada tanggal 11 Desember 1946 Belanda menyatakan Sulawesi dalam
keadaan perang dan hukum militer. Pada waktu itu Raymond Westerling mengadakan
aksi pembunuhan massal di desa-desa yang mengakibatkan sekitar 40.000 orang
tidak berdosa menjadi korban kebiadaban.
9)
Agresi Militer Belanda
I
Terjadi tanggal 21
Juli 1947 di mana Belanda telah melanggar Perjanjian Linggarjati dengan
melancarkan serangan secara tiba-tiba. Serangan tersebut diarahkan di
kota-kota besar di Jawa dan Sumatra terutama daerah minyak dan perkebunan.
Pada 21 Juli 1947,
Belanda melakukan serangan militer yang disebut sebagai Agresi Militer Belanda I. TNI melawan serangan
agresi Belanda tersebut menggunakan taktik gerilya. TNI berhasil membatasi
gerakan Belanda hanya di kota-kota besar saja dan di jalan raya.
Untuk menyelesaikan
masalah Indonesia-Belanda, pihak PBB membentuk Komisi yang dikenal dengan nama
Komisi Tiga Negara (KTN). Tugas KTN adalah menghentikan sengketa
RI-Belanda. Indonesia diwakili oleh
Australia, Belanda diwakili oleh Belgia, dan Amerika Serikat sebagai penengah.
Adapun delegasinya adalah sebagai berikut!
a. Australia, diwaktli oleh Richard Kirby
b. Belgia, diwakili oleh Paul Van Zeland
c. Amerik.a Serikat, diwakili oleh Dr.
Frank Graham.
10) Agresi Militer Belanda II
Terjadi pada tanggal
19 Desember 1948 di Yogyakarta. Serangan ini telah melanggar Perjanjian
Renville. Melihat hal ini, Sukarno dan Hata mengirim radiogram kepada Mr
Syarifudin Prawiranegara yang berkunjung di Bukittinggi Sumatra untuk segera
membentuk pemerintahan darurat RI di Bukittinggi.
Pada 18 Desember 1948,
Belanda di bawah pimpinan Dr. Bell
mengumumkan bahwa Belanda tidak terikat lagi oleh Persetujuan Renville.
Pada 19 Desember 1948 Belanda mengadakan Agresi Militer II ke ibu kota
Yogyakarta. Dalam agresi itu Belanda dapat menguasai Yogyakarta.
Presiden Sukarno dan
Wakil Presiden Mohammad Hatta ditawan dan diasingkan ke Pulau Bangka. Beliau
lalu mengirimkan mandat lewat radio kepada Mr. Syaffruddin Prawiranegara.
Isinya agar membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), di Bukit
Tinggi Sumatra Barat.
Pada 1 Maret 1949
Brigade X mengadakan serangan umum ke Yogyakarta. Penyerangan ini dipimpin Letkol. Soeharto.
Serangan ini memakai sandi "Janur Kuning". Serangan ini dikenal juga
dengan "Serangan Umum 1 Maret". Dalam penyerangan ini Tentara Republik
Indonesia dalam serangan ini berhasil menduduki Kota Yogyakarta selama 6 jam.
11)
Serangan
Umum 1 Maret 1949
Ketika Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua pada
bulan Desember 1948 ibu kota RI Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Presiden
Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta beserta sejumlah menteri ditawan oleh
Belanda. Belanda menyatakan bahwa RI telah runtuh. Namun di luar perhitungan
Belanda pada saat yang krisis ini terbentuklah Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat oleh Syarifudin Prawiranegara.
Di samping itu Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Kepala Daerah Istimewa
Yogyakarta tetap mendukung RI sehingga masyarakat Yogyakarta juga memberikan
dukungan kepada RI. Pimpinan TNI di bawah Jenderal Sudirman yang sebelumnya
telah menginstruksikan kepada semua komandan TNI melalui surat Perintah Siasat
No. 1 bulan November 1948 yang isinya adalah :
1) Memberikan kebebasan kepada setiap komandan
untuk melakukan serangan terhadap posisi militer Belanda
2) Memerintahkan kepada setiap komandan untuk
membentuk kantong-kantong pertahanan (wehrkreise)
3) Memerintahkan agar semua kesatuan TNI yang
berasal dari daerah pendudukan untuk segera meninggalkan Yogyakarta untuk
kembali ke daerahnya masing-masing (seperti Devisi Siliwangi harus kembali ke
Jawa Barat), jika Belanda menyerang Yogyakarta. Untuk pertahanan daerah
Yogyakarta dan sekitarnya diserahkan sepenuhnya kepada pasukan TNI setempat
yakni Brigade 10 di bawah Letkol Soeharto.
Dengan adanya agresi Militer Belanda maka dalam beberapa minggu
kesatuan TNI dan kekuatan bersenjata lainnya terpencar-pencar dan tidak
terkoordinasi. Namun para pejuang mampu melakukan komunikasi melalui jaringan
radio, telegram maupun para kurir. Bersamaan dengan upaya konsolidasi di bawah
PDRI, TNI melakukan serangan secara besar-besaran terhadap posisi Belanda di
Yogyakarta. Serangan ini dilakukan pada tanggal 1 Maret 1949 dipimpin oleh
Letkol Soeharto. Sebelum serangan dilakukan, terlebih dahulu meminta
persetujuan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Kepala Daerah Istimewa
Yogyakarta. Dalam serangan ini, TNI memakai sistem kantong-kantong pertahanan (wehrkreise).
Untuk memudahkan
penyerangan, maka dibentuk beberapa sektor yaitu :
§ sektor Barat dipimpin oleh Mayor Ventje Sumual
§ sektor Selatan dan Timur dipimpin oleh Mayor
Sardjono
§ sektor Utara dipimpin oleh Mayor Kusno
§ sektor Kota dipimpin oleh Letnan Amir Murtono
dan Letnan Masduki
Pada malam hari menjelang serangan umum, pasukan-pasukan telah
merayap mendekati kota dan melakukan penyusupan-penyusupan. Pagi hari tanggal 1
Maret 1949 sekitar pukul 06.00 WIB tepat sirene berbunyi, serangan dilancarkan
dari segala penjuru kota. Letkol Soeharto langsung memimpin penyerangan dari
sektor Barat sampai batas Jalan Malioboro. Rakyat membantu memperlancar
jalannya penyerangan dengan memberikan bantuan logistik. Serangan umum ini
membawa hasil yang memuaskan sebab para pejuang dapat menguasai kota Yogyakarta
selama 6 jam yakni jam 06.00 sampai jam 12.00 dan setelah itu pasukan TNI
mengundurkan diri. Hal ini sesuai dengan rencana yang ditentukan sejak awal.
Bersamaan dengan itu bantuan Belanda tiba dengan kendaraan lapis baja serta
pesawat terbang. Belanda melakukan serangan balasan.
Berita Serangan Umum ini disiarkan RRI yang sedang bergerilya di
daerah Gunung Kidul, yang dapat ditangkap RRI di Sumatera, selanjutnya dari
Sumatera berita itu disiarkan ke Yangoon dan India. Keesokan harinya peristiwa
itu juga dilaporkan oleh R. Sumardi ke PDRI di Buktitinggi melalui radiogram
dan juga disampaikan pula kepada Maramis. (diplomat RI di New Delhi, India) dan
L.N. Palar (Diplomat RI di New York, Amerika Serikat).
Serangan Umum 1 Maret
1949 di Yogyakarta ini mempunyai dua arti penting yaitu :
§ Ke dalam
a.
Meningkatkan semangat
para pejuang RI, dan juga secara tidak langsung memengaruhi sikap para pemimpin
negara federal buatan Belanda yang tergabung dalam BFO.
b.
Mendukung perjuangan
secara diplomasi, yakni Serangan Umum ini berdampak adanya perubahan sikap
pemerintah Amerika Serikat yang semula mendukung Belanda selanjutnya menekan
kepada pemerintah Belanda agar melakukan perundingan dengan RI.
§ Ke luar
a.
Menunjukkan kepada
dunia Internasional bahwa TNI mempunyai kekuatan untuk melakukan serangan
b. Mematahkan moral pasukan Belanda. Untuk
mengenang para pejuang dan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 maka pemerintah
Yogyakarta membangun
Beberapa Perjuangan
Melalui Jalur Diplomasi (Perundingan).
1. Perundingan
Soekarno – Van Mook
Pertemuan dimulai tanggal 23 Oktober 1945 di Gambir. Dalam perundingan ini
tidak menghasilkan apa-apa, namun sebagai langkah awal merintis jalan
perundingan selanjutnya.
2. Pertemuan Sutan
Syahrir – Van Mook Pertama
Pertemuan ini juga tidak menghasilkan keputusan apa-apa karena Belanda tetap
berpegang teguh pada isi pidato Ratu Wilhelmina tanggal 7 Desember 1942.
3. Perundingan
Hooge Veluwe
Perundingan ini terjadi tanggal 14 – 21 April di Hooge Veluwe di
kota kecil Belanda. Perundingan ini menemui jalan buntu yang mengakibatkan
hubungan Indonesia– Belanda semakin memburuk.
4. Perundingan
Linggarjati
Perundingan ini menghasilkan :
1. Belanda mengakui
kekuasaan de facto RI atas Jawa, Madura, dan Sumatra.
2. Pemerintah Belanda
bersama RI akan bersama-sama mendirikan Negara Indonesia Serikat (NIS)
tanggal 1 Januari 1949
3. RI dan Belanda
merupakan satu uni (gabungan) yang dikepalai Ratu Belanda
5. Perundingan
Renville
Hasil dari perundingan ini :
1. Akan dibentuk RIS (Republik Indonesia Serikat)
2. Belanda akan tetap
berkuasa di Indonesia sampai saat penyerahan kedaulatan.
3. Kedudukan RIS sejajar dengan Belanda
4. RI merupakan bagian dari RIS
5. Pasukan RI harus
ditarik keluar dari daerah pendudukan yang berhasil direbutnya.
6. RI harus mengakui
daerah yang berhasil diduduki Belanda sejak Agresi Militer Belanda Pertama.
6. Perundingan
Roem Royen
Hasil pertemuan ini :
1. Angkatan bersenjata
Indonesia akan menghentikan semua aktivitas gerilya
2. Pemerintah RI dikembalikan ke Yogyakarta
3. Pemerintah RI akan menghadiri KMB
4. Angkatan bersenjata
Belanda akan menghentikan semua operasi militer dan membebaskan tawanan perang
7. Perundingan
Inter Indonesia
Perundingan hanya ke dalam wilayah Indonesia yang diwakili dari RI dan BFO
(Negara Bagian Indonesia). Tujuannya untuk menyamakan langkah dalam menghadapi
KMB di Den Haag.
8. Perundingan
KMB (Konferensi Meja Bundar)
Hasil KMB adalah :
1. Belanda mengakui
kedaultan RIS (Republik Indonesia Serikat) kecuali wilayah Irian Barat yang
akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.
2. Dibentuknya UNI
Indonesia-Belanda dengan monarchi Belanda sebagai Kepala Negara.
3. Hutang Hindia
Belanda diambil alih oleh RIS.
No comments:
Post a Comment