Thursday, January 28, 2021

Sejarah : Materi 12 Peran Bangsa Indonesia Dalam Perdamaian Dunia

Sejarah : Materi 12 Peran Bangsa Indonesia Dalam Perdamaian Dunia

 

Materi Sejarah Indonesia : Peran Bangsa Indonesia Dalam Panggung Dunia (Perdamaian Dunia)

A.  Pola Hubungan Internasional yang Dibangun Indonesia

 

1. Makna Hubungan Internasional

 

Hubungan internasional mempunyai kedudukan penting Karena hubungan internasional merupakan salah satu jawaban bagi persoalan yang dialami oleh suatu negara. Ketika suatu negara mengalami kekurangan dalam suatu bidang, misalnya kekurangan tenaga ahli untuk membangun negerinya, maka melalui hubungan internasional negara tersebut mampu mengatasi persoalan tersebut dengan meminta bantuan dari negara lain.

 

Secara umum, hubungan internasional diartikan sebagai hubungan yang bersifat global yang meliputi semua hubungan yang terjadi dengan melampaui batas-batas ketatanegaraan. Konsepsi hubungan internasional oleh para ahli sering dianggap sama atau dipersamakan dengan konsepsi politik luar negeri, hubungan luar negeri dan politik internasional. Ketiga konsep tersebut sebenarnya memiliki makna yang berbeda satu sama lain, akan tetapi mempunyai persamaan yang cukup mendasar dalam hal ruang lingkupnya yang melampaui batas-batas negara (lingkup internasional).

 

Berikut dipaparkan makna dari ketiga konsep tersebut :

a.          Politik luar negeri adalah seperangkat cara yang dilakukan oleh suatu negara untuk mengadakan hubungan dengan negara lain dengan tujuan untuk tercapainya tujuan negara serta kepentingan nasional negara yang bersangkutan.

b.          Hubungan luar negeri adalah keseluruhan hubungan yang dijalankan oleh suatu negara dengan semua pihak yang tidak tunduk pada kedaulatannya.

c.          Politik internasional adalah politik antarnegara yang mencakup kepentingan dan tindakan beberapa atau semua negara, serta proses interaksi antarnegara maupun antarnegara dengan organisasi internasional.

 

2. Pentingnya Hubungan Internasional Bagi Indonesia

Suatu bangsa yang merdeka tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari negara lain. Untuk menjaga kelangsungan hidup dan mempertahankan kemerdekaannya, negara tersebut membutuhkan dukungan dari negara lain. Dengan cara mengadakan hubungan baik. Seperti, Indonesia yang ketika awal kemerdekaan menjalin hubungan dengan Australia , Amerika Serikat, Belgia, Mesir dsb.

   Adapun faktor-faktor pendorong perlunya kerja sama dalam bentuk hubungan internasional adalah

sebgai berikut :

 

a.          Faktor internal, yaitu adanya kekhawatiran terancam kelangsungan hidupnya baik melalui

kudeta maupun intervensi dari negara lain.

b.          Faktor ekternal, yaitu ketentuan hukum alam yang tidak dapat dipungkiri bahwa suatunegara tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan dan kerja sama dengan negara lain. 

Ketergantungan tersebut terutama dalam upaya memecahkan masalah-masalah ekonomi,

politik, hukum, sosial budaya, pertahanan dan keamanan.

 

Pola hubungan internsional  Indonesia dapat dilihat dari kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif bagi kepentingan nasional, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia. Selain untuk meningkatkan persahabatan dan kerja sama bilateral, regional dan multilateral, hubungan internasional indonesia juga diarahkan untuk :

a.          membentuk satu negara Republik Indonesia yang berbentuk negara kesatuan dan negara kebangsaan yang demokratis;

b.          membentuk satu masyarakat yang adil dan makmur secara material ataupun spiritual dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

c.          membentuk satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara di dunia, terutama sekali dengan negara-negara Afrika dan Asia atas dasar kerja sama membentuk satu dunia baru yang bersih dari imperialisme dan kolonialisme menuju perdamaian dunia yang sempurna;

d.          mempertahankan kemerdekaan bangsa dan menjaga keselamatan negara.

e.          memperoleh barang-barang yang diperlukan dari luar untuk memperbesar kemakmuran    rakyat, apabila barang-barang itu tidak atau belum dihasilkan sendiri;

f.           meningkatkan perdamaian internasional karena hanya dalam keadaan damai, Indonesia dapat membangun dan memperoleh syarat-syarat yang diperlukan untuk memperbesar kemakmuran rakyat;

g.          meningkatkan persaudaraan segala bangsa sebagai pelaksanaan cita-cita yang tersimpul dalam Pancasila, dasar dan filsafat negara kita.

 

B. Perjanjian Internasional yang Dilakukan Indonesia

1. Makna Perjanjian Internasional

Perjanjian internasional mempunyai kedudukan yang penting dalam pelaksanaan hubungan internasional. Biasanya negara-negara yang menjalin hubungan atau kerja sama internasional selalu menyatakan ikatan hubungan tersebut dalam suatu perjanjian internasional. Di dalam perjanjian internasional, diatur hal-hal yang menyangkut hak dan kewajiban antarnegara yang mengadakan perjanjian dalam rangka hubungan internasional.

 

Perjanjian internasional dapat diartikan sebagai perjanjian antarnegara atau antara negara dengan organisasi internasional yang menimbulkan akibat hukum tertentu berupa hak dan kewajiban di antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian tersebut.  Perjanjian internasional menjadi sumber hukum terpenting bagi hukum internasional, karena lebih menjamin kepastian hukum.

 

2. Kedudukan perjanjian internasional dianggap sangat penting, karena alasan berikut.

a.          Perjanjian internasional lebih menjamin kepastian hukum sebab perjanjian internasional dilakukan secara tertulis.

b.          Perjanjian internasional mengatur masalah-masalah kepentingan bersama di antara para subjek hukum internasional.

 

Dalam membuat suatu perjanjian internasional harus diperhatikan asas-asas berikut.

a.          Pacta Sunt Servada, yaitu asas yang menyatakan bahwa setiap perjanjian yang telah dibuat harus ditaati oleh pihak-pihak yang mengadakannya.

b.          Egality Rights, yaitu asas yang menyatakan bahwa pihak yang saling mengadakan hubungan atau perjanjian internasional mempunyai kedudukan yang sama.

c.          Reciprositas, yaitu asas yang menyatakan bahwa tindakan suatu negara terhadap negara  lain dapat dibalas setimpal, baik tindakan yang bersifat negatif maupun positif.

d.          Bonafides, yaitu asas yang menyatakan bahwa perjanjian yang dilakukan harus didasari oleh itikad baik dari kedua belah pihak agar dalam perjanjian tersebut tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

e.          Courtesy, yaitu asas saling menghormati dan saling menjaga kehormatan negara

f.           Rebus sig Stantibus, yaitu asas yang dapat digunakan terhadap perubahan yang mendasar dalam keadaan yang bertalian dengan perjanjian itu.

 

C.      LANDASAN IDEAL & KONSTITUSIONAL LUAR NEGERI

Landasan Ideal dalam pelaksanaan politik luar negeri Indonesia adalah Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia. Sedangkan landasan konstitusional dalam pelaksanaan politik luar negeri Indonesia adalah Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 alinea pertama.

 

Tujuan politik luar negeri bebas aktif adalah untuk mengabdi kepada tujuan nasional bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat.

 

 

POLITIK LUAR NEGERI BEBAS AKTIF & PELAKSANAANNYA

LAHIRNYA POLITIK LUAR NEGERI BEBAS AKTIF

 

Dalam perang dingin yang sedang berkecamuk antara Blok Amerika (Barat) dengan Blok Uni Soviet (Timur), Indonesia memilih sikap tidak memihak kepada salah satu blok yang ada. Hal ini untuk pertama kali diuraikan Syahrir, yang pada waktu itu menjabat sebagai Perdana Menteri di dalam pidatonya pada Inter Asian Relations Conference di New Delhi pada tanggal 23 Maret–2 April 1947. Syahrir mengajak bangsa-bangsa Asia untuk bersatu atas dasar kepentingan bersama demi tercapainya perdamaian dunia, yang hanya bisa dicapai dengan cara hidup berdampingan secara damai antar bangsa serta menguatkan ikatan antara bangsa ataupun ras yang ada di dunia.

 

Tetapi walaupun Indonesia memilih untuk tidak memihak kepada salah satu blok yang ada, hal itu tidak berarti Indonesia berniat untuk menciptakan blok baru. Indonesia juga tidak bersedia mengadakan atau ikut campur dengan suatu blok ketiga yang dimaksud untuk mengimbangi kedua blok raksasa itu.

 

Sikap yang demikian inilah yang kemudian menjadi dasar politik luar negeri Indonesia yang biasa disebut dengan istilah Bebas Aktif, yang artinya dalam menjalankan politik luar negerinya Indonesia tidak hanya tidak memihak tetapi juga “aktif“ dalam usaha memelihara perdamaian dan meredakan pertentangan yang ada di antara dua blok tersebut dengan cara “bebas“ mengadakan persahabatan dengan semua negara atas dasar saling menghargai.

 

 

POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA MASA DEMOKRASI PARLEMENTER (1950 -1959)

Prioritas utama politik luar negeri dan diplomasi Indonesia pasca kemerdekaan hingga tahun 1950an lebih ditujukan untuk menentang segala macam bentuk penjajahan di atas dunia, termasuk juga untuk memperoleh pengakuan internasional atas proses dekolonisasi yang belum selesai di Indonesia, dan menciptakan perdamaian dan ketertiban dunia melalui politik bebas aktifnya.

 

Sejak pertengahan tahun 1950 an, Indonesia telah memprakarsai dan mengambil sejumlah kebijakan luar negeri yang sangat penting dan monumental, seperti, Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Konsep politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif merupakan gambaran dan usaha Indonesia untuk membantu terwujudnya perdamaian dunia. Salah satu implementasinya adalah keikutsertaan Indonesia dalam membentuk solidaritas bangsa-bangsa yang baru merdeka dalam forum Gerakan Non-Blok (GNB) atau (Non-Aligned Movement/ NAM).

·       

POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA MASA SOEKARNO (DEMOKRASI TERPIMPIN)

Politik luar negeri Indonesia pada masa ini bersifat revolusioner. Presiden Soekarno dalam era ini berusaha sekuat tenaga untuk mempromosikan Indonesia ke dunia internasional melalui slogan revolusi nasionalnya yakni Nasakom (nasionalis, agama dan komunis) dimana elemen-elemen ini diharapkan dapat beraliansi untuk mengalahkan Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme).

 

Presiden Soekarno memperkenalkan doktrin politik baru berkaitan dengan sikap konfrontasi penuhnya terhadap imperialisme dan kolonialisme. Doktrin itu mengatakan bahwa dunia terbagi dalam dua blok, yaitu “Oldefos” (Old Established Forces) dan “Nefos” (New Emerging Forces). Soekarno menyatakan bahwa ketegangan-ketegangan di dunia pada dasarnya akibat dari pertentangan antara kekuatan-kekuatan orde lama (Oldefos) dan kekuatan-kekuatan yang baru bangkit atau negara-negara progresif (Nefos).

 

Politik luar negeri pada masa Demokrasi Terpimpin juga ditandai dengan usaha keras Presiden Soekarno membuat Indonesia semakin dikenal di dunia internasional melalui beragam konferensi internasional yang diadakan maupun diikuti Indonesia. Tujuan awal dari dikenalnya Indonesia adalah mencari dukungan atas usaha dan perjuangan Indonesia merebut dan mempertahankan Irian Barat. Efek samping dari kerasnya usaha ke luar Soekarno ini adalah ditinggalkannya masalah-masalah domestik seperti masalah ekonomi.

 

POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA PADA MASA ORDE BARU

Pada masa pemerintahan Soeharto, Indonesia lebih memfokuskan pada pembangunan sektor ekonomi. Beberapa sikap Indonesia dalam melaksanakan politik luar negerinya antara lain; menghentikan konfrontasi dengan Malaysia. Upaya mengakhiri konfrontasi terhadap Malaysia dilakukan agar Indonesia mendapatkan kembali kepercayaan dari Barat dan membangun kembali ekonomi Indonesia melalui investasi dan bantuan dari pihak asing. Selanjutnya Indonesia juga terlibat aktif membentuk organisasi ASEAN bersama dengan Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina.

 

POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA ERA REFORMASI

Pada masa pemerintahan Habibie, disibukkan dengan usaha memperbaiki citra Indonesia di kancah internasional yang sempat terpuruk sebagai dampak krisis ekonomi di akhir era Orde Baru dan kerusuhan pasca jajak pendapat di Timor-Timur. Lewat usaha kerasnya, Presiden Habibie berhasil menarik simpati dari Dana Moneter Internasional/International Monetary Funds (IMF) dan Bank Dunia untuk mencairkan program bantuan untuk mengatasi krisis ekonomi.

 

Pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, hubungan RI dengan negara-negara Barat mengalami sedikit masalah setelah lepasnya Timor- Timur dari NKRI. Diplomasi di era pemerintahan Abdurrahman Wahid dalam konteks kepentingan nasional selain mencari dukungan pemulihan ekonomi, rangkaian kunjungan ke mancanegara diarahkan pula pada upaya-upaya menarik dukungan mengatasi konflik domestik, mempertahankan integritas teritorial Indonesia, dan hal yang tak kalah penting adalah demokratisasi melalui proses peran militer agar kembali ke peran profesional.

 

Pada masa presiden Megawati lebih memerhatikan dan mempertimbangkan peran DPR dalam penentuan kebijakan luar negeri dan diplomasi seperti diamanatkan dalam UUD 1945. Presiden Megawati juga lebih memprioritaskan diri untuk mengunjungi wilayah-wilayah konflik di Tanah Air seperti Aceh, Maluku, Irian Jaya, Kalimantan Selatan atau Timor Barat.

 

Pada masa pemerintahan SBY berhasil mengubah citra Indonesia dan menarik investasi asing dengan menjalin berbagai kerjasama dengan banyak negara antara lain dengan Jepang. Politik luar negeri Indonesia di masa pemerintahan SBY diumpamakan dengan istilah ‘mengarungi lautan bergelombang’, bahkan ‘menjembatani dua karang’. Hal tersebut dapat dilihat dengan berbagai insiatif Indonesia untuk menjembatani pihak-pihak yang sedang bermasalah.

 

C.      PERAN INDONESIA DALAM UPAYA MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DUNIA

 

1.    PELAKSANAAN KONFERENSI ASIA AFRIKA (KAA) 1955

Pada awal tahun 1954, Perdana Menteri Ceylon (Srilangka) Sir Jhon Kotelawala mengundang para Perdana Menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru), Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dengan maksud mengadakan Konferensi Kolombo tanggal 28 April sampai dengan 2 Mei 1954. Konferensi Kolombo telah menugaskan Indonesia agar menjajaki kemungkinan untuk diadakannya Konferensi Asia Afrika. Atas undangan Perdana Menteri Indonesia, para Perdana Menteri peserta Konferensi Kolombo (Birma/Myanmar, Srilangka, India, Indonesia, dan Pakistan) mengadakan Konferensi di Bogor pada tanggal 28 dan 29 Desember 1954, yang dikenal dengan sebutan Konferensi Panca Negara. Konferensi ini membicarakan persiapan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika.

Pada tanggal 15 Januari 1955, surat undangan Konferensi Asia Afrika dikirimkan kepada Kepala Pemerintahan 25 (dua puluh lima) negara Asia dan Afrika. Dari seluruh negara yang diundang hanya satu negara yang menolak undangan itu, yaitu Federasi Afrika Tengah (Central African Federation), karena memang negara itu masih dikuasai oleh orang-orang bekas penjajahnya. Pada tanggal 18 April 1955 Konferensi Asia Afrika dilangsungkan di Gedung Merdeka Bandung. Konferensi dimulai pada jam 09.00 WIB dengan pidato pembukaan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno. Sidang-sidang selanjutnya dipimpin oleh Ketua Konferensi Perdana Menteri RI Ali Sastroamidjojo.

KAA yang diadakan tersebut menghasilkan Dasasila Banadung.

 

Dasasila Bandung :

 

•        Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan, serta asas-asas kemanusiaan yang termuat dalam piagam PBB.

•        Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.

•        Mengakui persamaan semua suku-suku bangsa dan persamaan semua bangsa besar maupun kecil.

•        Tidak melakukan campur tangan dalam soal-soal dalam negara lain.

•        Menghormati hak-hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian atau secara kolektif, yang sesuai dengan piagam PBB.

•        Tidak melakukan tekanan terhadap negara-negara lain.

•        Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi terhadap integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain.

•        Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai seperti perundingan, persetujuan, dan lain-lain yang sesuai dengan piagam PBB.

•        Memajukan kerjasama untuk kepentingan bersama.

•        Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

 

 

 

2.    Gerakan Non-Blok/Non Align Movement (NAM)

Gerakan Non-Blok (GNB) atau Non Align Movement (NAM) adalah suatu gerakan yang dipelopori oleh negara-negara dunia ketiga yang beranggotakan lebih dari 100 negara-negara yang berusaha menjalankan kebijakan luar negeri yang tidak memihak dan tidak menganggap dirinya beraliansi dengan Blok Barat atau Blok Timur.

 

Tujuan GNB mencakup dua hal, yaitu tujuan ke dalam dan ke luar. Tujuan kedalam yaitu mengusahakan kemajuan dan pengembangan ekonomi, sosial, dan politik yang jauh tertinggal dari negara maju.

 

Tujuan ke luar, yaitu berusaha meredakan ketegangan antara Blok Barat dan Blok Timur menuju perdamaian dan keamanan dunia. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, negera-negara Non Blok menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT).

 

3.    Misi Pemeliharaan Perdamaian Garuda

Pengiriman Misi Garuda yang pertama kali dilakukan pada bulan Januari 1957. Pengiriman Misi Garuda dilatarbelakangi adanya konflik di Timur Tengah terkait masalah nasionalisasi Terusan Suez yang dilakukan oleh Presiden Mesir Ghamal Abdul Nasser pada 26 Juli 1956.

 

Untuk kedua kalinya Indonesia mengirimkan kontingen untuk diperbantukan kepada United Nations Operations for the Congo (UNOC) sebanyak satu batalyon. Pengiriman pasukan ini terkait munculnya konflik di Kongo (Zaire sekarang). Konflik ini muncul berhubungan dengan kemerdekaan Zaire pada bulan Juni 1960 dari Belgia yang justru memicu pecahnya perang saudara.

 

4.    Pembentukan ASEAN

Pada tanggal 5-8 Agustus di Bangkok dilangsungkan pertemuan antarmenteri luar negeri dari lima negara, yakni Adam Malik (Indonesia), Tun Abdul Razak (Malaysia), S Rajaratman (Singapura), Narciso Ramos (Filipina) dan tuan rumah Thanat Khoman (Thailand).

 

Pada 8 Agustus 1967 para menteri luar negeri tersebut menandatangani suatu deklarasi yang dikenal sebagai Bangkok Declaration.

 

Deklarasi tersebut merupakan persetujuan kesatuan tekad kelima negara tersebut untuk membentuk suatu organisasi kerja sama regional yang disebut Association of South East Asian Nations (ASEAN).

 

Menurut Deklarasi Bangkok, Tujuan ASEAN adalah:

 

a.          Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara.

b.          Memajukan stabilisasi dan perdamaian regional Asia Tenggara.

c.          Memajukan kerjasama aktif dan saling membantu di negara-negara anggota dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, teknik, ilmu pengetahuan dan administrasi.

d.          Menyediakan bantuan satu sama lain dalam bentuk fasilitas-fasilitas latihan dan penelitian.

e.          Kerjasama yang lebih besar dalam bidang pertanian, industri, perdagangan, pengangkutan, komunikasi serta usaha peningkatan standar kehidupan rakyatnya.

f.           Memajukan studi-studi masalah Asia Tenggara.

g.          Memelihara dan meningkatkan kerjasama yang bermanfaat dengan organisasi-organisasi regional dan internasional yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


22 comments:

  1. Nama: Sebastian Yong Kelas 12 IPA
    Saya belajar bahwa untuk menciptakan sebuah kesepakatan atau perjanjian, harus ada hubungan dari pihak-pihak. Selain itu, harus memperhatikan asas supaya tidak ada pihak yang dirugikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan: Bagaimana supaya dua negara memiliki hubungan dulu? Apakah harus ada perjanjian terlebih dahulu?

      Delete
    2. Biasanya akan ada proses Hubungan internasional dengan memiliki perjanjian kerjasama di tandai dengan saling mengirim duta besar sebagai wakil negara ke negara yang sudah sepakat adakan hubungan kerja sama

      Delete
    3. Perjanjian antar negara penting supaya hubungan internasional yang dilakukan ada ikatan hukum nya

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Queeney
    Belajar mengenai hubungan internasional dan perjanjian internasional yang dilakukan Indonesia.

    ReplyDelete
  4. Reyhan Belajar tentang perrdamaian dunia

    ReplyDelete
  5. Saya Kenneth Orleans dari kelas 12 IPA, saya ingin bertanya mengapa Indonesia pada akhirnya melepas Timor Timur bila dikiranya akan mengganggu kestabilitasan perekonomian negara?

    ReplyDelete
  6. Saya Kenneth Orleans dari kelas 12 IPA, saya belajar mengenai hubungan internasional dan juga perjanjian internasional dari Indonesia

    ReplyDelete
  7. Saya bryant belajar beberapa faktor-faktor dari pendorong hubungan international antar negara

    ReplyDelete
  8. saya sharon, saya belajar tentang bagaimana pentingnya hubungan internasional bagi Indonesia juga perdamaian dunia

    ReplyDelete
  9. Vanessa Huang_12IPA-Neil Armstrong: Saya belajar bagaimana Indonesia berpartisipasi dalam menjaga perdamaian dunia melalui banyak cara dan rintangan.

    ReplyDelete
  10. Steven Waskito
    Kami selalu belajar bahwa hubungan serta organisasi internasional selalu menguntungkan seperti ASEAN dan G30, namun apakah sebenarnya ada kerugian ketika mengikuti asosiasi internasional?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hubungan kerjasama bisanya diawali karena ada kebutuhan dan tujuan yang sama, tentu saja kerjasama ini akan menguntungkan negara-negara yang ikut dalam perjanjian tsb spt ASEAN atau G20. Jika ada kerugian tentu ada meski tidak banyak salah satu contohnya dengan mengikuti prjanjian dlm organisasi tertentu tentu negara harus mengikuti semua peraturan yang dikeluarkan organisasi yang mungkin belum tentu cocok dengan kondisi negara.

      Delete
    2. Tujuan dari perjanjian biasanya untuk mendapatkan keuntungan bagi negara-negara anggota, jika ada kerugian yang diakibatkan oleh perjanjian tersebut tentu akan di kaji ulang atau di evaluasi sehingga tidak menimbulkan kerugian-kerugian berikutnya

      Delete
    3. Terima kasih atas jawaban-jawabnya. Tuhan memberkati

      Delete
  11. Clarissa belajar makna perjanjian internasional, perjanjian internasional yang dilakukan indonesia, serta politik luar negeri

    ReplyDelete
  12. Joshua Tanujaya
    Saya belajar pentingnya hubungan internasional dan peran Indonesia dalam perdamaian dunia

    ReplyDelete
  13. Dengan pelajaran tentang Hubungan International yang dibangun Indonesia, saya mendapatkan bahwa ada suatu bangsa yang merdeka tidak dapat hidup sendri tanpa bantuan dari negara lain. Indonesia menjalin hubungan dengan Australia, AS, Belgia Mesir, d.l.l. ketika awal. - Jolin

    ReplyDelete
  14. saya mitchell, saya belajar mengenai peran-peran bangsa indonesia d dalam hubungan internasional

    ReplyDelete
  15. jessica belajar tentang sejarah politik luar negeri yang dilakukan oleh indonesia serta beberapa pemimpin politik luar negeri

    ReplyDelete

MAKNA BHINNEKA TUNGGAL IKA

 MAKNA BHINNEKA TUNGGAL IKA CATATAN Bhinneka Tunggal Ika adalah konsep filosofis dan ideologi negara Indonesia yang berarti "Berbeda-...