TOKOH HAM DUNIA
Tokoh
Ham Dunia – Kita bisa belajar dari manusia-manusi hebat yang pernah dilahirkan
ke dunia, tentu dengan begitu kita berharap dapat meneladani kehidupan mereka.
Ada yang menarik
dari kehidupan tokoh HAM dunia, mereka berjuang sepenuh hati mengorbankan
banyak hal demi keadilan dan kemanusian.
Seperti yang telah kita tahu bersama, HAM merupakan hak yang harus dijunjung
tinggi oleh setiap orang, ciri dari ham sendiri ialah hak yang ada sejak
kodrati dan tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Nah supaya kita bisa menghormati hak asasi itu sendiri, maka tidak ada salahnya kita mengenal tokoh-tokoh HAM berikut ini.
PERINGATAN Hak
Asasi Manusia (HAM) di dunia. Setiap manusia pada dasarnya
memiliki hak dasar yang lazim dinamakan HAM. Namun dalam praktiknya, tidak
semua orang bisa menikmati hak tersebut. Itulah sebabnya banyak yang berjuang
mendapatkan dan mempertahankan HAM untuk diri sendiri serta orang lain meski
nyawa menjadi taruhannya. Berikut 10 aktivis dunia yang terbunuh karena
perjuangannya menegakkan HAM.
1. Mahatma Gandhi (India, 1869-1948)
Gandhi adalah pemimpin paling menonjol dari gerakan non-kekerasan untuk
kemerdekaan India. Sekarang, namanya identik dengan non-kekerasan dan
perjuangan damai untuk hak asasi manusia. Saat mengadvokasi kemerdekaan India,
Gandhi juga sering berbicara menentang rasisme dalam komunitas Hindu-nya
sendiri dan berulang kali menyerukan persatuan antara umat Hindu dan Muslim
India, yang sering bertengkar satu sama lain. Pada 30 Januari 1948,
kurang dari setahun setelah India mencapai kemerdekaan, Gandhi ditembak mati
oleh ekstremis Hindu. Puluhan tahun setelah dia dibunuh, ajaran dan metodenya
masih bergema dengan banyak orang yang berjuang atas nama hak asasi manusia.
2. Martin Luther King Jr. (AS,1929-1968)
Pada 1964, aktivis hak-hak sipil ini memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian.
Perjuangan Martin Luther King Jr. untuk hak-hak sipil berakhir dengan tragis
pada 4 April 1968, ketika dia tewas ditembak oleh seorang pria bernama James
Earl Ray.
3. Malcolm X (AS, 1925-1965)
Malcolm X adalah pemimpin gerakan hak-hak sipil AS pada 1950-an dan 60-an. Tidak seperti Martin Luther King
Jr yang mendukung aksi non-kekerasan dan protes damai, Malcolm X percaya dalam
membasmi rasisme, "dengan segala cara yang diperlukan," termasuk
menggunakan kekerasan.
Saat menjalani hukuman di penjara karena pencurian, Malcolm X bergabung dengan
Nation of Islam, gerakan nasionalis kulit hitam. Namun pada 1964, Malcolm X
keluar dari gerakan tersebut. Setelah itu, dia memulai perjalanan melalui
Afrika dan Timur Tengah di mana dia menyelesaikan Ibadah Haji.
Di sinilah pandangannya mulai berubah dan dia mencari jalan damai
memperjuangkan hak-hak sipil warga Afrika-Amerika. Saat memberikan pidato di
Manhattan pada 21 Februari 1965, orang-orang yang berafiliasi dengan Nation of
Islam memasuki ruangan tempat dia berpidato dan menembaknya hingga tewas.
4. Jamal Khashoggi (Mesir, 1958-2018)
Khashoggi adalah jurnalis dan kritikus terkemuka terhadap pemerintah Arab
Saudi. Pada suatu waktu dia sangat dekat dengan keluarga kerajaan karena
menjabat sebagai salah satu penasihat kerajaan. Dia berselisih dengan penguasa
dan akhirnya mengasingkan diri ke Amerika Serikat (AS) pada 2017.
Setelah tiba di AS, dia mulai menulis kolom mingguan di Washington Post, yang
dia gunakan mengkritik kebijakan Pangeran Mohamed Bin Salman (MBS), penguasa de
facto Arab Saudi. Kritik terhadap pemimpin Saudi inilah yang diduga menjadi
penyebab kematian tragisnya pada 2 Oktober 2018. Khashoggi dibunuh secara
brutal di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Pangeran MBS diduga kuat
terlibat langsung dalam pembunuhannya
5. Benazir Bhutto (Pakistan, 1953-2007)
Bhutto adalah perdana menteri wanita pertama Pakistan dan penganjur demokrasi
di negara itu. Dia juga wanita pertama yang memimpin negara Muslim. Bhutto ikut
memimpin perjuangan memulihkan demokrasi di Pakistan setelah kudeta militer
pada 1977. Usahanya membuahkan hasil pada 1988, ketika pemilihan demokratis
digelar dan dia terpilih sebagai perdana menteri.
Bhutto menjabat dari 1988 hingga 1990 dan terpilih kembali dari 1993 hingga
1996. Dia mencalonkan diri sebagai perdana menteri sekali lagi dalam pemilu
negara itu 2008. Saat kampanye dia terbunuh dalam sebuah serangan bom bunuh
diri. Kelompok teroris, Al-Qaeda, dituduh melakukan pembunuhan tersebut.
6. Harvey Milk (AS, 1930-1978)
Aktivis gay terkemuka, Milk merupakan salah satu politisi gay terbuka pertama
di AS yang terpilih menjadi Dewan Pengawas San Francisco pada 1977. Ia dikenal
sebagai "Walikota Castro Street" di jantung kaum gay San Francisco.
Saat berada di Dewan Pengawas, ia berseteru dengan Dan White, politisi lokal
lain yang menentang hak-hak gay. Ketika sekutu politik Milk, Walikota George
Mascone, menolak mengangkatnya kembali ke posisi yang pernah dia
pegang, White menembak mati Mascone. Tak berhenti pada Mascone, White kemudian
mencari Milk lalu juga membunuhnya dengan tembakan.
7. Boris Nemtsov (Rusia, 1959-2015)
Seorang mantan
fisikawan yang menjadi politisi, Nemtsov adalah kritikus terkemuka dari
Presiden Rusia saat ini, Vladimir Putin. Antara 1999 dan 2015, dia terlibat
dalam berbagai gerakan oposisi. Pada 15 Februari 2015, saat berada di Lapangan
Merah Moskow, Nemtsov ditembak mati, hanya beberapa hari setelah dia mengkritik
keterlibatan militer Rusia di Ukraina.
8. Juan Jose Gerardi Conedera (Guatemala, 1922-1998)
Gerardi adalah seorang uskup Katolik Roma yang membela hak asasi rakyat
Guatemala di tengah perang saudara negara itu. Ia menjadi koordinator
Kantor Hak Asasi Manusia di Keuskupan Guatemala, yang ditugaskan memberikan bantuan
kepada korban pelanggaran hak asasi manusia dan mengumpulkan informasi terkait
dengan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama perang sipil
Guatemala. Dia dipukuli sampai mati pada 26 April 1998, dua hari setelah dia
memimpin presentasi publik tentang studi mendalam Gereja Guatemala tentang
konflik bersenjata Guatemala (1960-1996).
9. Ingrid Washinawatok (AS, 1957-1999)
Washinawatok mengadvokasi hak-haknya sendiri dan penduduk asli lainnya di AS.
Dia pernah menjabat sebagai ketua komite untuk Dekade Internasional Masyarakat
Adat Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan merupakan salah satu produser
film dokumenter, Warrior.
Pada 1999, saat dalam perjalanan ke Kolombia, Washinawatok diculik dan dibunuh
oleh kelompok bersenjata yang memerangi pemerintah sah Kolombia. Bangsa
Menominee, menghormatinya dengan pemakaman prajurit lengkap.
10. Natalya Estemirova (Rusia, 1958-2009)
Estemirova adalah seorang aktivis Rusia yang mendokumentasikan
pelanggaran hak asasi manusia di Republik Rusia Chechnya. Dia sangat kritis terhadap
tindakan yang diambil oleh pemerintah federal Rusia dan otoritas Republik
Chechnya.
Kritiknya bahkan mendapat ancaman langsung dari Presiden Chechnya. Pada 15 Juli
2009, saat dia pergi bekerja, kendaraannya disergap oleh orang-orang
bersenjata, yang menculiknya dan membunuhnya hanya beberapa jam kemudian.
Sumber: www.worldatlas.com
11. Nelson Mandela
Siapa
yang tidak mengenal Nelson Mandela, sosok yang karismatik asal Afrika Selatan.
Beliau merupakan seorang aktivis yang lahir dengan nama Nelson Rolihlahla
Mandela.
Di
Afrika, pada waktu itu orang kulit hitam menjadi bahan diskriminasi, samahalnya
dengan Amerika. Namun Mandela tidak diam begitu saja, ia memperjuangkan hak-hak
kulit hitam dari diskriminasi yang didapatkannya.
Nelson
mandela memiliki pemikiran, bahwa masyarakat kulit hitam berhak untuk
menentukan nasibnya sendiri secara politik, dan tentu tidak lagi mendapatkan
diskriminasi dari masyarakat kulit putih.
Berkat
pendidikan hukum yang sesuai, akhirnya Nelson Mandela dapat mewujudkan itu
semua, tentu dengan penuh perjuangan.
Selain
mampu melepaskan diskriminasi yang didapatkan masyarakat kulit hitam, Nelson
Mandela merupakan presiden Afrika Selatan pertama berkulit hitam.
Bunda Teresa
Santa
Teresa atau masyarakat dunia lebih mengenal dengan sebutan Bunda Teresa
merupakan biarawati katolik Roma berkebangsaan India yang dilahirkan di Uskub
pada Agustus 1910.
Perjalanan
hidupnya banyak menginspirasi orang dunia, karena Bunda teresa mampu
mengambdikan hidupnya untuk kepentingan orang lain, seperti orang sakit, orang
miskin dan yatim piatu.
Bunda
Teresa mendirikan Missionaries of Charity di berbagai negara sebagai wadah
atau media untuk membantu sesama.
Missionaries
of Charity sampai saat ini masih berperan aktif dalam melindungi dan membantu
kemanusian.
12. Ichsan Yasin Limpo
Tokoh
Hak Asasi Manusia atau kemanusian selanjutnya merupakan seseorang dengan
kebangsaan Indonesia. Pria yang biasa dipanggil IYC dikenal sebagai orang yang
peduli terhadap kondisi sesama.
Selain
beliau berkecimpung di dunia pemerintahan, beliau sangat peduli dengan kondisi
masyarakat sektar, teruta mereka yang menjadji penggungsi, akibat terjadi
bencana alam. Atau kepedulliannya tersebut, IYC mendapatkan penghargaan dari
PBB sebagai seorang yang peduli dengan pengungsi Indonesia.
John Lewis, Tokoh Pejuang HAM Amerika Meninggal di Usia 80 CNN, CNN Indonesia | Sabtu, 18/07/2020 23:59 WIB Bagikan : John Lewis. (AFP/MANDEL NGAN). Jakarta, CNN Indonesia -- John Robert Lewis, salah satu tokoh pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) di Amerika Serikat meninggal dunia dalam usia 80 tahun, Jumay (17/7) waktu setempat. Dia meninggal setelah sebelumnya berjuang melawan penyakit kanker yang dideritanya selama enam bulan terakhir. "Dengan kesedihan yang tak terhindarkan dan kesedihan abadi kami mengumumkan berlalunya Rep. John Lewis AS," kata keluarganya dalam sebuah pernyataan dilansir dari CNN, Sabtu (18/7). Lihat juga:Demo George Floyd dan 'Peluru' Bagi Para Seteru AS Ketua DPR Nancy Pelosi mengumumkan kematiannya dalam sebuah pernyataan. "Hari ini, Amerika berduka karena kehilangan salah satu pahlawan terbesar dalam sejarah Amerika, Anggota Kongres John Lewis, Hati Nurani Kongres," kata anggota Demokrat dari California ini. Lewis meninggal pada hari yang sama dengan pemimpin hak-hak sipil Pendeta Cordy Tindell "C.T." Vivian, yang berusia 95 tahun. Kematian kedua orang dari simbol perjuangan hak-hak sipil itu datang ketika Amerika masih bergulat dengan pergolakan rasial setelah kematian George Floyd dan maraknya protes Black Lives Matter. John Lewis tidak hanya tokoh pergerakan yang terus memperjuangkan hak-hak sipil. Tapi dia juga dikenal sebagai anggota Kongres dari Georgia. Dia memposisikan dirinya sebagai pembela kaum marjinal di AS. Lihat juga:China Sindir Kasus Floyd, AS Sebut Propaganda Menggelikan John Lewis menjadi anggota Kongres dari Georgia yang mewakili Partai Demokrat. Dia telah menjadi anggota Kongres selama lebih dari tiga dekade. Selama hidupnya, John Lewis dikenal dengan gerakan moral membela hak-hak minoritas lewat jalur non-kekerasan. Semangatnya membela HAM dan kesetaraan terlihat dari aktivitasnya selama berpuluh tahun. Dia kerap menjalani penahanan saat melakukan aksi protes soal ketimpangan ras.
13. Anna Eleanor Roosevelt
adalah seorang tokoh politik, diplomat dan aktivis Amerika. Dia menjabat sebagai Ibu Negara Amerika Serikat dari 4 Maret 1933 sampai 12 April 1945, selama suaminya menjabat sebagai Ibu Negara Presiden Franklin D. Roosevelt empat kali, menjadikannya Ibu Negara terlama di Amerika Serikat. Roosevelt menjabat sebagai Delegasi Amerika Serikat di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dari 1945 hingga 1952.
Presiden Harry S. Truman kemudian memanggilnya “Ibu Negara Dunia” sebagai penghormatan atas pencapaian hak asasi manusianya.
Roosevelt adalah anggota keluarga Roosevelt dan Livingston Amerika terkemuka dan keponakan dari Presiden Theodore Roosevelt. Dia memiliki masa kecil yang tidak bahagia, menderita kematian kedua orang tua dan salah satu saudara laki-lakinya di usia muda. Pada usia 15 tahun, dia bersekolah di Allenwood Academy di London dan sangat dipengaruhi oleh kepala sekolahnya Marie Souvestre. Kembali ke AS, ia menikahi sepupu kelimanya setelah dipecat, Franklin Delano Roosevelt, pada tahun 1905. Pernikahan Roosevelt dipersulit sejak awal oleh ibu Franklin yang mengendalikan, Sara, dan setelah Eleanor mengetahui perselingkuhan suaminya dengan Lucy Mercer pada tahun 1918, ia memutuskan untuk mencari kepuasan dalam menjalani kehidupan publiknya sendiri.
Dia membujuk Franklin untuk tetap berpolitik setelah dia terserang penyakit kelumpuhan pada tahun 1921, yang membuatnya tidak bisa menggunakan kakinya secara normal, dan mulai memberikan pidato dan tampil di acara kampanye menggantikannya. Setelah Franklin terpilih sebagai Gubernur New York pada tahun 1928, dan selama sisa karir publik Franklin di pemerintahan, Roosevelt secara teratur tampil di depan umum atas namanya, dan sebagai Ibu Negara, sementara suaminya menjabat sebagai presiden, dia secara signifikan mengubah dan mendefinisikan kembali peran tersebut. Ibu Negara.
Meskipun dihormati secara luas di tahun-tahun terakhirnya, Roosevelt adalah Ibu Negara yang kontroversial pada saat itu karena blak-blakannya, terutama tentang hak-hak sipil untuk Afrika-Amerika. Dalam beberapa kesempatan, dia secara terbuka tidak setuju dengan kebijakan suaminya. Dia meluncurkan komunitas eksperimental di Arthurdale, West Virginia, untuk keluarga penambang yang menganggur, yang kemudian secara luas dianggap gagal. Dia mengadvokasi peran yang diperluas bagi wanita di tempat kerja, hak-hak sipil orang Afrika-Amerika dan Asia Amerika, dan hak-hak pengungsi Perang Dunia II. Setelah suaminya meninggal pada tahun 1945, Roosevelt tetap aktif dalam politik selama 17 tahun sisa hidupnya. Dia menekan Amerika Serikat untuk bergabung dan mendukung Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menjadi delegasi pertamanya. Dia menjabat sebagai ketua pertama Komisi Hak Asasi Manusia PBB dan mengawasi penyusunan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.
14. César Estrada Chávez
Terlahir pada 31 Maret 1927 – 23 April 1993 adalah seorang pemimpin buruh Amerika, pengorganisir komunitas, pengusaha, dan aktivis hak-hak sipil Amerika Latin. Bersama Dolores Huerta, ia ikut mendirikan National Farm Workers Association (NFWA), yang kemudian bergabung menjadi serikat buruh United Farm Workers (UFW). Secara ideologis, pandangan dunianya menggabungkan politik kiri dengan ajaran sosial Katolik Roma.
Lahir di Yuma, Arizona, dari keluarga Meksiko Amerika, Chavez memulai kehidupan kerjanya sebagai pekerja kasar sebelum menghabiskan dua tahun di Angkatan Laut Amerika Serikat. Merelokasi ke California, di mana dia menikah, dia terlibat dalam Organisasi Layanan Masyarakat (CSO), di mana dia membantu para pekerja mendaftar untuk memilih. Pada tahun 1959, ia menjadi direktur nasional CSO, posisi yang berbasis di Los Angeles. Pada tahun 1962, dia meninggalkan CSO untuk ikut mendirikan NFWA, yang berbasis di Delano, California, di mana dia meluncurkan skema asuransi, credit union, dan surat kabar El Malcriado untuk pekerja pertanian.
Belakangan dekade itu dia mulai mengorganisir pemogokan di antara para pekerja pertanian, terutama pemogokan anggur Delano yang sukses pada 1965-1970. Di tengah pemogokan anggur, NFWA miliknya bergabung dengan Komite Organisasi Pekerja Pertanian untuk membentuk UFW pada tahun 1967. Dipengaruhi oleh pemimpin kemerdekaan India Mahatma Gandhi, Chavez menekankan taktik langsung tetapi tanpa kekerasan, termasuk piket dan boikot, untuk menekan pemilik pertanian agar mengabulkan tuntutan pemogok. . Dia menanamkan kampanyenya dengan simbolisme Katolik Roma, termasuk prosesi publik, misa, dan puasa. Menerima banyak dukungan dari kelompok buruh dan kiri, dia diawasi oleh Biro Investigasi Federal (FBI).
Pada awal 1970-an, Chavez berusaha memperluas pengaruh UFW di luar California dengan membuka cabang di negara bagian AS lainnya. Melihat imigran ilegal sebagai sumber utama pemecah pemogokan, dia juga mendorong kampanye melawan imigrasi ilegal ke AS, yang menimbulkan kekerasan di sepanjang perbatasan AS-Meksiko dan menyebabkan perpecahan dengan banyak sekutu UFW. Aliansinya dengan Gubernur California Jerry Brown membantu memastikan disahkannya Undang-Undang Hubungan Perburuhan Pertanian California tahun 1975
Saya sudah membaca
ReplyDeleteSudah dibaca
ReplyDeletesudah dibaca
ReplyDelete- caylee/xi/ipa1
Jason/11 IPA 1, BP
ReplyDelete10 Nilai-nilai yang dipelajari dari para tokoh:
- Tujuan akhir mereka sama yaitu untuk menjunjung tinggi HAM secara aksi, meskipun risiko sangat berat
- Perjuangan mereka berat dan berakhir dengan tragis namun semua tidak sia-sia.
- Perbuatan simple, yang nanti bisa menjadi hal besar jika dilakukan dengan benar bisa berdampak baik pada banyak orang.
- Tetap bertahan dalam segala tekanan negatif baik politik maupun sipil (rakyat biasa).
- Tidak takut kepada oposisi yang merupakan seorang elit.
- Tetap kuat pada posisi benar.
- Masih konsisten dalam misi & visi nya.
- Tidak memikirkan hal yang berhubungan dengan materi balasan (penerimaan).
- Tidak egois.
- Memiliki jiwa patriotis, yaitu memperbaiki semua masalah bangsa.
samuel/ 11 ipa 2 JHT
ReplyDelete1. terkadang perjuangan seseorang membutuhkan waktu yang sangat amat lama, bahkan setelah wafatnya orang tersebut
2. suatu perjuangan yang merubah suatu negara tidak akan terjadi hanya dalam sesaat, setiap dari perjuangan tersebut membutuhkan kerja keras dan waktu yang lama.
3. apa yang dilakukan mayoritas tidak selalu benar, dan terkadang seseorang harus tetap teguh pada kepercayaan mereka.
4. tujuan yang jelas dan tidak mudah tergertak adalah hal yang penting dalam menjaminkan keadaannya HAM yang sesuai
5. terkadang, sebanyak kebaikkan yang dilakukan seseorang, mereka tetap akan mendapatkan hidup yang tragis. itulah mengapa mereka bisa dipanggil sebagai pahlawan.
6. pejuang penegak HAM bisa datang dari segala segi kehidupan dan segala situasi
7. terkadang dalam mempertahankan kebenaran seseorang akan merasa sendiri dalam perjuangannya melawan musuh yang tiada akhirnya, namun mereka tidak boleh menyerah
8. mereka rela sengsara bagi mayoritas orang lainnya
9. mereka memiliki motivasi yang tidak egois
10. mereka tidak takut pada kemungkinan kegagalan
Michael / 11 IPA 2 JHT
ReplyDelete- Banyak pejuang HAM yang berasal dari berbagai waktu dan tempat di seluruh dunia
- Banyak cara memperjuangkan HAM.
- Memperjuangkan HAM tidak selalu mudah, walaupun mereka pada akhirnya berhasil memperjuangkan HAM, mereka semua mati tragis.
- Mereka sangat berani meskipun mereka pasti sadar bahwa ada orang ekstremis yang tidak sependapat dengan mereka.
- Mereka pantang menyerah dalam memperjuangkan HAM
- Perjuangan mereka tidak sia-sia walaupun mereka mati terbunuh, buktinya sampai sekarang perjuangan mereka dicatat di dalam sejarah.
- Semua orang bisa memperjuangkan HAM walaupun mempunyai pengalaman hidup yang berbeda-beda.
- Mereka memberikan puluhan tahun dari umur mereka yang berjumlah itu memperjuangkan HAM.
- Mereka tidak segan-segan menggunakan harta mereka yang dikumpulkan sepanjang hidup mereka untuk memperjuangkan HAM.
- Ada dari mereka yang mendapatkan penghargaan dan sangat dikenal orang semua orang, tetapi ada dari mereka yang kurang terkenal walupun mereka sudah berjuang sampai dibunuh.