Sunday, October 2, 2022

DISINTEGRASI BANGSA


 

DISINTEGRASI BANGSA

 

Pengertian dan Bentuk Disintegrasi

Pengertian Disintegrasi difahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah. Fenomena seperti ini biasanya terjadi pada negara yang belum memiliki manajemen politik yang baik, sehingga setiap situasi akan rentan mennjadi konflik dalam masyarakat yang bisa menjadi pemicu disintegrasi bangsa.

Secara sederhana disintegrasi merupakan bentuk perilaku setiap individu atau masyarakat yang hidup dalam keadaan ketidakteraturan, salah satu penyebabnya bisa dikarenakan adanya perubahan sosial yang terus menerus terjadi di setiap sisi kehidupan.


Jika dilihat dari bentuknya, disintegrasi dapat digolongkan menjadi beberapa bagaian, di antaranya

Disintegrasi Sosial

Disintegrasi sosial merupakan ketidakadanya fungsi dan norma yang berjalan. Kondisi tersebut bisa dikarenakan adanya masyarakat yang kurang merasa puas dengan kondisinya, sehingga ia ingin melakukan perubahan-perubahan secara fundamental.

Disintegrasi Bangsa

Disintegrasi bangsa merupakan perpecahan hidup dalam masyarakat yang disebabkan karena adanya pengaruh negara lain atau negara sendiri. Salah satu penyebab adanya disintegrasi bangsa adalah tidak dapat menerima suatu perbedaan (kemajemukkan), sehingga tidak timbul sikap toleransi.

Disintegrasi Keluarga

Disintegrasi keluarga dapat didefinisikan sebagai disorganisasi keluarga yang disebabkan karena adanya kekurang pahaman antar anggota keluarga. Fakta ini dapat dilhat seperti adanya kasus perceraian, broken home, pisah ranjang, KDART, dan lain sebagainya.

Faktor Penyebab Disintegrasi

Salah satu faktor penyebab adanya disintegrasi karena timbulnya konflik, sedangkan salah satu penyebab timbulnya konflik adalah adanya agresi atau penyerangan. Misalnya, terjadinya peristiwa perang di sampit, antara orang Madura dengan orang Dayak. Seperti halnya pula yang terjad di Ambon, Maluku. Antara orang Kristen dengan orang Islam. Dan masih banyak fenomena yang lainnya di Indonesia.

Pengetahuan akan disintegrasi pada tingkat nasional menjadi penting untuk dipahami dalam konteks kebangsaan dan pendidikan. Selain itu, perlu diketahui pula bahwa ada beberapa faktor penyebab disintegrasi nasional atau penghambat integrasi sebagaimana dirumuskan Tholib dalam “Modul Pembelajaran PPKn: Integrasi Nasional dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika” (2020). Beberapa faktor itu antara lain:

a. Kurangnya penghargaan terhadap kemajemukan yang bersifat heterogen

b. Kurangnya toleransi antargolongan

c. Kurangnya kesadaran dari masyarakat Indonesia terhadap ancaman dan gangguan dari luar

d. Adanya ketidakpuasan terhadap ketimpangan hasil-hasil pembangunan. Upaya untuk mencapai proses integrasi nasional dapat dilakukan dengan cara menjaga keselarasan antarbudaya.

Selain itu, menurut pendapat yang lain, ini adalah beberapa faktor penyebab disintegrasi bangsa

1.    Berkembangnya ideologi – ideologi yang sangat bertentangan dengan Pancasila seperti Ideologi komunisme, Ideologi leninisme, Ideologi marxisme, dan Ideologi neoliberalisme.

2.    Adanya golongan – golongan maupun kelompok masyarakat yang tidak mengikuti aturan baik aturan daerah dan negara secara benar dan baik.

3.    Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap para pemimpin dan pengelola negara.

4.    Norma – norma yang sebelumnya berlaku di masyarakat, menjadi sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya untuk mencapai cita – cita rakyat.

5.    Kurangnya sanksi yang tegas bagi para pelanggara aturan daerah dan negara.

6.    Setiap tindakan yang dilakukan masyarakat sudah tidak berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 lagi.

7.    Menurunya sikap toleransi dan tenggang rasa antar masyarakat.

8.    Terciptanya suasana politik yang tidak kondusif dan tidak sehat sehingga memecah belah rakyatnya.

9.    Meningkatknya sikap apatisme dan egoisme.

10. Terjadinya ketidakmerataan baik di bidang pembangunan, pendidikan, dsb.

Sejalan dengan faktor-faktor tersebut, berikut adalah beberapa contoh dari disintergrasi nasional atau disintegrasi bangsa yang berujung pada konflik sosial di Indonesia.

Identifikasi faktor

Untuk mengidentifikasi lebih jauh terkait timbulnya konflik yang disebabkan oleh agresi, ada beberapa teori yang bisa digunakan sebagai alat analisa

Teori Insting

Agresi berasal dari dorongan atau fitrah biologis manusia untuk bertindak merusak dan destruktif. Freud menjelaskan agresi berasal dari insting thanatos  atau keinginan untuk mati yang dimanifestasikan dengan menyerang atau menyakiti orang lain maupun diri sendiri.

Teori Dorongan

Agresi disebabkan karena adanya kondisi-kondisi eksternal misalnya, putus asa, kehilangan muka atau malu yang membuat ornag bermotif kuat melakukan tindakan menyakitkan orang lain. Dollard menjelaskan hipotesis frustasi-agresi, yaitu bahwa frustasi adalah perasaan yang tidak menyenangkan yang menimbulkan tindakan agresi. Ada hubungan erat antara perasaan negatif akibat frustasi dengan perilaku agresif.

Teori Neo-asosiasi Kognitif

Agresi berasal dari reaksi negatif terhadap pengalaman, kognisi, dan ingatan yang tidak menyenangkan. Berkowitz mengatakan jika mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, orang lain cenderung melakukan tindakan agresif atau eskapis (melarikan diri) dari keadaan tidak menyenangkan.

Teori Pembelajaran Sosial

Agresi terbentuk karena pembelajaran dari lingkungan sekitarnya, baik melalui pengalaman langsung maupun mengamati perilaku orang lain. Albert Bandura menjelaskan orang agresif dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengalaman masa lalunya, penguatan atau hukuman terhadap agresifnya. Persepsi orang yang bersangkutan terhadap tepat tidaknya agresi yang dilakukan, dan antisipasinya terhadap potensi akibat yang ditimbulkan oleh tindakan agresinya.

Faktor Penyebab Konfilk Menurut Simon Fisher

Simon Fisher menjelaskan bahwa konflik terjadi karena beberapa faktor

Teori Relasi masyarakat

Konflik terjadi karena ada polarisasi yang terus menerus, kecurigaan, ketidakpercayaan, dan pertentangan antara kelompok yang berbeda dalam masyarakat.

Teori Negosiasi Berprinsip

Konflik dikarenakan oleh posisi yang bertentangan dan pandangan konflik zero-sum yang diadopsi oleh pihak konflik.

Teori Kebutuhan Manusia

Konflik yang berakar mendalam biasanya disebabkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, kebutuhan primer, psiko-sosial, termasuk pula di dalamnya keamanan, identitas, perhatian, partisipasi, dan otonomi.

Teori Identitas

Konflik bisa disebabkan oleh perasaan identitas yang terancam dan seringkali berakar dari tidak terpecahkannya masalah kerugian di masa lampau dan penderitaan.

Teori Miskomunikasi antar Budaya

Timbulnya konflik dikarenakan adanya tipe komunikasi kultural yang bertentangan atau berbeda.

Teori Tranformasi Konflik

Konflik dapat terjadi karena masalah nyata yaitu ketidaksertaan dan ketidakadilan yang diekspresikan dalam persaingan kerangka kerja sosial, budaya, dan ekonomi.

Contoh Kasus Disintegrasi yang Pernah Terjadi di Indonesia

Apa saja contoh peristiwa disintegrasi bangsa? Berikut ini beberapa contoh kasus disintegrasi yang pernah terjadi di Indonesia

  • Pemberontakan Partai Komunis Indonesia.
  • Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)
  • Pemberontakan Andi Aziz.
  • Pemberontakan PRRI dan PERMESTA.
  • Gerakan Aceh Merdeka
  • Konflik antar suku di Sampit (2001)
  • Konflik antar agama di Ambon (1999)
  • Konflik antar etnis (1998)
  • Konflik golongan agama (2000-an)

Dari penjelasan di atas, secara sederhana disintegrasi merupakan bagian dari ancaman dalam kerukunan antar masyarakat. Oleh karena itu, cara mengatasi kejadian ini salah satunya dengan menjalankan terus komitmen kesepakatan antar masyarakat yang ada.

Pengantasan disintegrasi juga dapat dilakukan dengan menciptakan pranata sosial yang disesuaikan dengan proses perubahan sosial-budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Apabila penanggualangan ini tidak dilakukan maka niscaya dampak disintegrasi akan dirasakan oleh masyarakat.

 REFERENSI TAMBAHAN

https://tirto.id/apa-itu-primordialisme-pengertian-dan-ciri-cirinya-gdZj https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6252541/pengertian-intoleransi-dan-contoh-sikapnya https://plus.kapanlagi.com/memahami-arti-fanatik-dan-bedanya-dengan-fanatisme-ketahui-juga-penyebab-dampak-negatifnya-b2e57c.html https://endahwin01.blogspot.com/2022/11/contoh-peristiwa-disintegrasi-nasional.html


Di Indonesia sendiri tercatat sejumlah pemberontakan yang sempat pecah.

Berikut daftarnya:

1. Pemberontakan G30S/PKI

Gerakan G30S/PKI sendiri terjadi pada tanggal 30 September 1965, tepatnya saat malam hari. Insiden G30S/PKI masih menjadi perdebatan berbagai kalangan mengenai siapa penggiatnya dan apa motif yang melatar belakanginya.

Akan tetapi kelompok reliji terbesar saat itu dan otoritas militer menyebarkan kabar bahwa insiden tersebut merupakan ulah PKI yang bertujuan untuk mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.

Hingga pada puncaknya Pada tanggal 30 September 1965, PKI melakukan penculikan terhadap enam orang jenderal TNI AD. Tiga jenderal itu adalah MT Haryono, Ahmad Yani dan DI Panjaitan yang tewas di tempat. Sedangkan Tiga jenderal lainnya seperti Sutoyo Siswomiharjo, Soeprapto dan S. Parman dibawa oleh para pemberontak dalam kondisi hidup.

 

2. Pemberontakan Permesta

Proklamasi PRRI ternyata mendapat dukungan dari Indonesia bagian Timur. Gerakannya dikenal dengan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Permesta dideklarasikan oleh pemimpin sipil dan militer Indonesia bagian timur pada 2 Maret 1957 yaitu oleh Letkol Ventje Sumual.

Gerakan ini jelas melawan pemerintah pusat dan menentang tentara sehingga harus ditumpas. Untuk menumpas gerakan Permesta, pemerintah melakuakan operasi militer beberapa kali.

 

3. Pemberontakan PRRI

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI tercipta sebagai buah dari protes masyarakat daerah yang merasakan ketidakadilan pemerintah pusat. Daerah kecewa terhadap pemerintah pusat yang dianggap tidak adil dalam alokasi dana pembangunan.

Kekecewaan tersebut diwujudkan dengan pembentukan dewan-dewan daerah seperti Dewan Manguni di Sulawesi Utara yang dipimpin oleh Kolonel Ventje Sumual, Dewan Garuda di Sumatra Selatan yang dipimpin oleh Letkol Barlian, Dewan Gajah di Sumatra Utara yang dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolan, Dewan Banteng di Sumatra Barat yang dipimpin oleh Letkol Ahmad Husein.

 

4. Pemberontakan PKI di Madiun

Pada tanggal 18 September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Tujuannya untuk meruntuhkan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan negara komunis. Pada waktu yang bersamaan, gerakan PKI dapat merebut tempat-tempat penting di Madiun.

Kemudian atas perintah Jenderal Sudirman, tentara berhasil menumpas gerakan ini. Sang tokoh utama itu tewas sedangkan beberapa yang lain seperti Dipa Nusantara Aidit (DN. Aidit) berhasil meloloskan diri.

 

5. Pemberontakan DI/TII

Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII) dibentuk karena banyak pihak yang kecewa dengan kepemimpinan Presiden Soekarno. Tujuan DI TII sendiri ialah mendirikan negara berbasis Islam dengan pimpinan utamanya bernama Kartosuwiryo. Kelompok ini rupanya mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk Aceh dan beberapa daerah lain yang bahkan menyatakan bergabung dengan organisasi tersebut.

Dalam perkembangannya, DI TII menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Aceh.

 

6. Pemberontakan GAM

Gerakan Aceh Merdeka merupakan sebuah organisasi separatis yang memiliki tujuan supaya daerah Aceh lepas dari Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya korban hampir sekitar 15.000 jiwa.

Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro yang sekarang bermukim di Swedia dan memiliki kewarganegaraan Swedia.

 

7. Pemberontakan OPM

Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah sebuah gerakan nasionalis yang didirikan tahun 1965 yang bertujuan untuk mewujudkan kemerdekaan Papua bagian barat dari pemerintahan Indonesia. Sebelum era reformasi, provinsi yang sekarang terdiri atas Papua dan Papua Barat ini dipanggil dengan nama Irian Jaya.

 

8. Pemberontakan RMS

Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat).

Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai pemberontakan dan harus segera ditumpas. Pulau-pulau terbesar yang menjadi basis RMS adalah Pulau Seram, Ambon, dan Buru. Di Ambon RMS dikalahkan oleh militer Indonesia pada November 1950, tetapi konflik di Pulau Seram masih berlanjut sampai Desember 1963.


No comments:

Post a Comment

MAKNA BHINNEKA TUNGGAL IKA

 MAKNA BHINNEKA TUNGGAL IKA CATATAN Bhinneka Tunggal Ika adalah konsep filosofis dan ideologi negara Indonesia yang berarti "Berbeda-...