DISINTEGRASI BANGSA
Pengertian dan Bentuk
Disintegrasi
Pengertian Disintegrasi difahami
sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah.
Fenomena seperti ini biasanya terjadi pada negara yang belum memiliki manajemen
politik yang baik, sehingga setiap situasi akan rentan mennjadi konflik dalam
masyarakat yang bisa menjadi pemicu disintegrasi bangsa.
Secara sederhana disintegrasi
merupakan bentuk perilaku setiap individu atau masyarakat yang hidup dalam
keadaan ketidakteraturan, salah satu penyebabnya bisa dikarenakan adanya
perubahan sosial yang terus menerus terjadi di setiap sisi kehidupan.
Jika dilihat dari bentuknya,
disintegrasi dapat digolongkan menjadi beberapa bagaian, di antaranya
Disintegrasi Sosial
Disintegrasi sosial merupakan
ketidakadanya fungsi dan norma yang
berjalan. Kondisi tersebut bisa dikarenakan adanya masyarakat yang kurang
merasa puas dengan kondisinya, sehingga ia ingin melakukan perubahan-perubahan
secara fundamental.
Disintegrasi Bangsa
Disintegrasi bangsa merupakan
perpecahan hidup dalam masyarakat yang disebabkan karena adanya pengaruh negara
lain atau negara sendiri. Salah satu penyebab adanya disintegrasi bangsa adalah
tidak dapat menerima suatu perbedaan (kemajemukkan), sehingga tidak timbul
sikap toleransi.
Disintegrasi Keluarga
Disintegrasi keluarga dapat
didefinisikan sebagai disorganisasi keluarga yang disebabkan karena adanya
kekurang pahaman antar anggota keluarga. Fakta ini dapat dilhat seperti adanya
kasus perceraian, broken home, pisah ranjang, KDART, dan lain sebagainya.
Faktor Penyebab Disintegrasi
Salah satu faktor penyebab adanya
disintegrasi karena timbulnya konflik, sedangkan salah satu penyebab timbulnya
konflik adalah adanya agresi atau penyerangan. Misalnya, terjadinya peristiwa
perang di sampit, antara orang Madura dengan orang Dayak. Seperti halnya pula
yang terjad di Ambon, Maluku. Antara orang Kristen dengan orang Islam. Dan
masih banyak fenomena yang lainnya di Indonesia.
Pengetahuan akan disintegrasi
pada tingkat nasional menjadi penting untuk dipahami dalam konteks kebangsaan
dan pendidikan. Selain itu, perlu diketahui pula bahwa ada beberapa faktor
penyebab disintegrasi nasional atau penghambat integrasi sebagaimana dirumuskan
Tholib dalam “Modul Pembelajaran PPKn: Integrasi Nasional dalam Bingkai
Bhinneka Tunggal Ika” (2020). Beberapa faktor itu antara lain:
a. Kurangnya penghargaan terhadap
kemajemukan yang bersifat heterogen
b. Kurangnya toleransi
antargolongan
c. Kurangnya kesadaran dari
masyarakat Indonesia terhadap ancaman dan gangguan dari luar
d. Adanya ketidakpuasan terhadap
ketimpangan hasil-hasil pembangunan. Upaya untuk mencapai proses integrasi
nasional dapat dilakukan dengan cara menjaga keselarasan antarbudaya.
Selain itu, menurut pendapat
yang lain, ini adalah beberapa faktor
penyebab disintegrasi bangsa
1. Berkembangnya
ideologi – ideologi yang sangat bertentangan dengan Pancasila seperti Ideologi
komunisme, Ideologi leninisme, Ideologi marxisme, dan Ideologi neoliberalisme.
2. Adanya golongan
– golongan maupun kelompok masyarakat yang tidak mengikuti aturan baik aturan
daerah dan negara secara benar dan baik.
3. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap para
pemimpin dan pengelola negara.
4. Norma – norma yang sebelumnya berlaku di
masyarakat, menjadi sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya untuk
mencapai cita – cita rakyat.
5. Kurangnya sanksi yang tegas bagi para pelanggara
aturan daerah dan negara.
6. Setiap tindakan yang dilakukan masyarakat
sudah tidak berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 lagi.
7. Menurunya sikap toleransi dan tenggang rasa
antar masyarakat.
8. Terciptanya suasana politik yang tidak
kondusif dan tidak sehat sehingga memecah belah rakyatnya.
9. Meningkatknya sikap apatisme dan egoisme.
10. Terjadinya ketidakmerataan
baik di bidang pembangunan, pendidikan, dsb.
Sejalan dengan faktor-faktor
tersebut, berikut adalah beberapa contoh dari disintergrasi nasional atau
disintegrasi bangsa yang berujung pada konflik sosial di Indonesia.
Identifikasi faktor
Untuk mengidentifikasi lebih jauh
terkait timbulnya konflik yang disebabkan oleh agresi, ada beberapa teori yang
bisa digunakan sebagai alat analisa
Teori Insting
Agresi berasal dari dorongan atau
fitrah biologis manusia untuk bertindak merusak dan destruktif. Freud
menjelaskan agresi berasal dari insting thanatos atau
keinginan untuk mati yang dimanifestasikan dengan menyerang atau menyakiti
orang lain maupun diri sendiri.
Teori Dorongan
Agresi disebabkan karena adanya
kondisi-kondisi eksternal misalnya, putus asa, kehilangan muka atau malu yang
membuat ornag bermotif kuat melakukan tindakan menyakitkan orang lain. Dollard
menjelaskan hipotesis frustasi-agresi, yaitu bahwa frustasi adalah perasaan
yang tidak menyenangkan yang menimbulkan tindakan agresi. Ada hubungan erat
antara perasaan negatif akibat frustasi dengan perilaku agresif.
Teori Neo-asosiasi Kognitif
Agresi berasal dari reaksi
negatif terhadap pengalaman, kognisi, dan ingatan yang tidak menyenangkan.
Berkowitz mengatakan jika mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, orang
lain cenderung melakukan tindakan agresif atau eskapis (melarikan diri) dari
keadaan tidak menyenangkan.
Teori Pembelajaran Sosial
Agresi terbentuk karena
pembelajaran dari lingkungan sekitarnya, baik melalui pengalaman langsung
maupun mengamati perilaku orang lain. Albert Bandura menjelaskan orang agresif
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengalaman masa lalunya, penguatan
atau hukuman terhadap agresifnya. Persepsi orang yang bersangkutan terhadap
tepat tidaknya agresi yang dilakukan, dan antisipasinya terhadap potensi akibat
yang ditimbulkan oleh tindakan agresinya.
Faktor Penyebab Konfilk
Menurut Simon Fisher
Simon Fisher menjelaskan bahwa konflik terjadi
karena beberapa faktor
Teori Relasi masyarakat
Konflik terjadi karena ada
polarisasi yang terus menerus, kecurigaan, ketidakpercayaan, dan pertentangan
antara kelompok yang berbeda dalam masyarakat.
Teori Negosiasi Berprinsip
Konflik dikarenakan oleh posisi
yang bertentangan dan pandangan konflik zero-sum yang diadopsi oleh pihak
konflik.
Teori Kebutuhan Manusia
Konflik yang berakar mendalam
biasanya disebabkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia,
kebutuhan primer, psiko-sosial, termasuk pula di dalamnya keamanan, identitas,
perhatian, partisipasi, dan otonomi.
Teori Identitas
Konflik bisa disebabkan oleh
perasaan identitas yang terancam dan seringkali berakar dari tidak
terpecahkannya masalah kerugian di masa lampau dan penderitaan.
Teori Miskomunikasi antar
Budaya
Timbulnya konflik dikarenakan
adanya tipe komunikasi kultural yang bertentangan atau berbeda.
Teori Tranformasi Konflik
Konflik dapat terjadi karena
masalah nyata yaitu ketidaksertaan dan ketidakadilan yang diekspresikan dalam
persaingan kerangka kerja sosial, budaya, dan ekonomi.
Contoh Kasus Disintegrasi yang
Pernah Terjadi di Indonesia
Apa saja contoh
peristiwa disintegrasi bangsa? Berikut ini beberapa contoh kasus
disintegrasi yang pernah terjadi di Indonesia
- Pemberontakan Partai Komunis Indonesia.
- Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)
- Pemberontakan Andi Aziz.
- Pemberontakan PRRI dan PERMESTA.
- Gerakan Aceh Merdeka
- Konflik antar suku di Sampit (2001)
- Konflik antar agama di Ambon (1999)
- Konflik antar etnis (1998)
- Konflik golongan agama (2000-an)
Dari penjelasan di atas, secara
sederhana disintegrasi merupakan bagian dari ancaman dalam kerukunan antar
masyarakat. Oleh karena itu, cara mengatasi kejadian ini salah satunya dengan
menjalankan terus komitmen kesepakatan antar masyarakat yang ada.
Pengantasan disintegrasi juga
dapat dilakukan dengan menciptakan pranata sosial yang disesuaikan dengan
proses perubahan sosial-budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Apabila penanggualangan ini tidak dilakukan maka niscaya dampak disintegrasi
akan dirasakan oleh masyarakat.
Di Indonesia sendiri
tercatat sejumlah pemberontakan yang sempat pecah.
Berikut daftarnya:
1. Pemberontakan
G30S/PKI
Gerakan G30S/PKI
sendiri terjadi pada tanggal 30 September 1965, tepatnya saat malam hari.
Insiden G30S/PKI masih menjadi perdebatan berbagai kalangan mengenai siapa
penggiatnya dan apa motif yang melatar belakanginya.
Akan tetapi kelompok
reliji terbesar saat itu dan otoritas militer menyebarkan kabar bahwa insiden
tersebut merupakan ulah PKI yang bertujuan untuk mengubah unsur Pancasila
menjadi ideologi komunis.
Hingga pada puncaknya
Pada tanggal 30 September 1965, PKI melakukan penculikan terhadap enam orang
jenderal TNI AD. Tiga jenderal itu adalah MT Haryono, Ahmad Yani dan DI
Panjaitan yang tewas di tempat. Sedangkan Tiga jenderal lainnya seperti Sutoyo
Siswomiharjo, Soeprapto dan S. Parman dibawa oleh para pemberontak dalam
kondisi hidup.
2. Pemberontakan
Permesta
Proklamasi PRRI
ternyata mendapat dukungan dari Indonesia bagian Timur. Gerakannya dikenal
dengan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Permesta dideklarasikan oleh
pemimpin sipil dan militer Indonesia bagian timur pada 2 Maret 1957 yaitu oleh
Letkol Ventje Sumual.
Gerakan ini jelas
melawan pemerintah pusat dan menentang tentara sehingga harus ditumpas. Untuk
menumpas gerakan Permesta, pemerintah melakuakan operasi militer beberapa kali.
3. Pemberontakan
PRRI
Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI tercipta sebagai buah dari protes
masyarakat daerah yang merasakan ketidakadilan pemerintah pusat. Daerah kecewa
terhadap pemerintah pusat yang dianggap tidak adil dalam alokasi dana
pembangunan.
Kekecewaan tersebut
diwujudkan dengan pembentukan dewan-dewan daerah seperti Dewan Manguni di
Sulawesi Utara yang dipimpin oleh Kolonel Ventje Sumual, Dewan Garuda di
Sumatra Selatan yang dipimpin oleh Letkol Barlian, Dewan Gajah di Sumatra Utara
yang dipimpin oleh Kolonel Maludin Simbolan, Dewan Banteng di Sumatra Barat
yang dipimpin oleh Letkol Ahmad Husein.
4. Pemberontakan
PKI di Madiun
Pada tanggal 18
September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di
Indonesia. Tujuannya untuk meruntuhkan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila dan menggantinya dengan negara komunis. Pada waktu yang bersamaan,
gerakan PKI dapat merebut tempat-tempat penting di Madiun.
Kemudian atas
perintah Jenderal Sudirman, tentara berhasil menumpas gerakan ini. Sang tokoh
utama itu tewas sedangkan beberapa yang lain seperti Dipa Nusantara Aidit (DN.
Aidit) berhasil meloloskan diri.
5. Pemberontakan
DI/TII
Darul Islam (DI) dan
Tentara Islam Indonesia (TII) dibentuk karena banyak pihak yang kecewa dengan
kepemimpinan Presiden Soekarno. Tujuan DI TII sendiri ialah mendirikan negara
berbasis Islam dengan pimpinan utamanya bernama Kartosuwiryo. Kelompok ini
rupanya mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk Aceh dan beberapa daerah
lain yang bahkan menyatakan bergabung dengan organisasi tersebut.
Dalam
perkembangannya, DI TII menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa
Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Aceh.
6. Pemberontakan
GAM
Gerakan Aceh Merdeka
merupakan sebuah organisasi separatis yang memiliki tujuan supaya daerah Aceh
lepas dari Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah dan GAM yang
diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 dan
menyebabkan jatuhnya korban hampir sekitar 15.000 jiwa.
Gerakan ini juga
dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). GAM
dipimpin oleh Hasan di Tiro yang sekarang bermukim di Swedia dan memiliki
kewarganegaraan Swedia.
7. Pemberontakan
OPM
Organisasi Papua
Merdeka (OPM) adalah sebuah gerakan nasionalis yang didirikan tahun 1965 yang
bertujuan untuk mewujudkan kemerdekaan Papua bagian barat dari pemerintahan
Indonesia. Sebelum era reformasi, provinsi yang sekarang terdiri atas Papua dan
Papua Barat ini dipanggil dengan nama Irian Jaya.
8. Pemberontakan
RMS
Republik Maluku
Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25 April 1950
dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu
Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat).
Namun oleh
Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai pemberontakan dan harus segera ditumpas.
Pulau-pulau terbesar yang menjadi basis RMS adalah Pulau Seram, Ambon, dan
Buru. Di Ambon RMS dikalahkan oleh militer Indonesia pada November 1950, tetapi
konflik di Pulau Seram masih berlanjut sampai Desember 1963.
No comments:
Post a Comment